SAHABAT SEPERTIMU ITU 'SO IMPRESSIVE'

Belajar dari hidup atau hidup untuk belajar?

            Selama aku mengaku hidup, sudah sekian sakit atau berjuta kebahagiaan yang memberikan pengertiannya untuk aku pelajari. Bahwa segalanya pasti mempunyai perbandingan untuk mengenali. Mungkin sebuah kesalahan jika selama ini aku lebih suka menarik diri terhadap hal yang tidak aku suka. Nyatanya semua itu tidak membuat aku semakin baik-baik saja. Aku ingin menjadi bagian dari keluarga itu, tapi aku hanya diam menyaksikan. Membatasi diri dari komunikasi karena merasa aku tidak pantas berbaur dalam percakapan itu. Aku menarik diri karena aku merasa tidak dibutuhkan dan memang seharusnya lebih baik diam. Tapi tidak begitu. Diam itu bukan karena aku tidak ingin bicara. Diam itu bukan berarti aku tidak perduli atas segala percakapan itu.
             Ada rasa tidak ingin kehilangan kata "keluarga" itu, ada rasa tidak rela jika semakin hari aku tidak bertemu dan tidak berinteraksi dengan yang namanya “keluarga”. Semakin jauh hingga sekian hari, semuanya serasa semakin buruk. Seperti aku tidak menemukan “keluarga” itu. Yah, aku tau. Itu hanya anggapanku saja, aku yang membatasi diri hingga terkesan jauh. Aku ingin kembali dan terus merasakan nuansa “keluarga” itu.
            Sekian kali aku berkutat hanya dengan diamku mengumadangkan keinginan itu. Sekian kali pula aku tak kunjung menikmati percakapan antar “keluarga”. Aku hanya mampu merasa iri pada mereka yang begitu lekat dan dekat sebagai “keluarga”. Aduh, manusia macam apa aku ini? Meski berusaha berubah menjadi orang yang cerewet, periang, mudah akrab. Tapi tetap saja ya sifat awalku selalu muncul ketika sendiri dan merasa sendiri. Yah, aku selalu membenci sifatku yang dulu lebih suka menyendiri, diam, dan menunggu bola. Aku bilang aku butuh orang yang bisa menarikku dari kebencian itu. Tapi untuk apa? Sampai kapan aku hanya terus berkutat dalam ketidakenakan itu? Sampai orang yang aku maksud datang? Kapan? Harusnya tak perlu mengharapkan, tapi bagaimana itu dan apapun adalah kepusanku. Aku yang menjadi penentu dari sikap dan lakuku.
            Aku iri melihatmu yang selalu penuh semangat dan keberanian dalam menentukan sikap. Selalu melihat prediksi baik dan lebih sering mengabaikan resiko yang mungkin saja lebih besar dan buruk. Tak peduli, yang penting melakukan dan berusaha. Kau yang selalu berjuang dengan semangat seperti menyindirku yang seringkali mengeluhkan keterbatasanku, atau yang lebih tepatnya lagi, aku yang membatasi diriku lalu menganggapnya sebagai keterbatasan. Ah, payah.
            Tapi, terimakasih karena kau sudah mau berteman dengan orang yang penuh keluh dan seringnya merasa sendiri ini. Terimakasih kau sudah mau meluangkan waktu sibukmu untuk sekedar bercakap meski hanya dalam tulisan. Aku selalu senang jika ada orang macam kamu yang dengan keterbukaan dan keramahan, datang menawarkan persahabatan atau cerita apapun untuk aku dengarkan. Betapa berharganya kesempatan itu.
            Iya, kau benar. Tak seharusnya aku membatasi diri lalu menganggapnya keterbatasan yang tak bisa aku ubah. Yah, lagi-lagi kau benar ketika berkata bahwa jika ingin terus bersamamu dan untuk terus mendengarkan kisahmu aku sudah harus menyingkap keterbatasan itu menjadi ketidakberbatasan. Karena aku bisa melakukan banyak hal yang aku inginkan jika aku mau. Karena aku bisa mendapatkan banyak hal dari semua daftar keinginan -sekalipun yang tak terungkap- jika aku mau. Hanya tinggal mau atau tidak untuk memperjuangkan. Hanya tinggal mau atau tidak untuk bicara dan memperdengarkan pada mereka.

            Kau menertawaiku yang selama ini sok tegar namun di dalamnya rapuh. Kau menertawaiku begitu keras ketika aku bicarakan tentang “keluarga” yang selama ini tak kunjung bisa aku jamah dan berbaur dalam pergaulan “keluarga”. Aku tidak sakit hati atas tawamu itu, justru serasa sangat menggelitikku.  Mempertanyakan sisi kemanusiaanku yang tak bisa bertahan dalam “keluarga”. Tidak, itu tidak akan terjadi lagi. Aku tidak ingin kehilangan “keluarga” itu. Aku tidak ingin kehilangan apapun yang selama ini harusnya aku jaga, apapun yang aku miliki adalah harta berharga. Harta itu ya “keluarga”, kamu, pengalaman, keberanian, bicara, senyum ramah dan ceritamu. 

Komentar