A.
INSTRUMENTASI
1. Injektor
Injektor
digunakan untuk memasukkan sampel, menguapkan sampel, dan mencampur uap sampel
dengan gas pembawa. Dalam kromatografi gas, semua sampel dari fase asal harus
diubah menjadi fase gas/uap. Untuk otomatisasi, bisa juga
menggunakan autoinjector/autosampler. Injektor dilengkapi dengan blok pemanas (heater
block) yang memungkinkan pengaturan suhu injektor untuk menguapkan
sampel. Biasanya yang menjadi patokan awal adalah kira-kira 50 oC di atas titik
didih tertinggi dalam campuran, dengan asumsi semua zat target akan menguap
tapi tidak sampai merusak komponen itu sendiri
2. Kolom
Fungsi
kolom merupakan “jantung” kromatografi gas dimana terjadi pemisahan komponen-
kompinen cuplikan kolom terbuat dari baja tahan karat, nikel, kaca.
3. Oven
Kolom
diletakan dalam sebuah oven yang bisa diatur suhunya sesuai kebutuhan analisis
(baik suhu tetap maupun suhu terprogram). Oven yang baik harus bisa memberikan
akurasi dan kestabilan suhu yang baik.
4. Detektor
Fungsi detektor
adalah untuk memonitor gas pembawa yang keluar dari kolom dan merespon
perubahan komposisi solut yang terelusi.
Ada
beberapa jenis detektor dalam khromatografi gas, berikut adalah jenis detektor
yang dikenal :
a.
Flame Ionization Detector (FID)
Detektor
general untuk mengukur komponen-komponen sampel yang memiliki gugus alkil
(C-H). Komponen sampel masuk ke FID, kemudian akan dibakar dalam nyala
(campuran gas H2 dan udara), komponen akan terionisasi, ion-ion yang dihasilkan
akan dikumpulkan oleh ion collector, arus yang dihasilkan akan
diperkuat, kemudian akan dikonversi menjadi satuan tegangan. Semakin tinggi
konsentrasi komponen, makin banyak pula ion yang dihasilkan sehingga responnya
juga makin besar.
b.
Thermal Conductivity Detector (TCD)
Detektor
paling general sebab hampir semua komponen memiliki daya hantar panas.TCD
bekerja dengan prinsip mengukur daya hantar panas dari masing-masing komponen. Mekanismenya
berdasarkan teori “Jembatan Wheatstone” di mana ada dua sel yaitu sel referensi
dan sel sampel. Sel referensi hanya dilalui oleh gas pembawa, sementara sel
sampel dilalui oleh gas pembawa dan komponen sampel. Perbedaan suhu kedua sel
akan mengakibatkan perbedaan respon listrik antara keduanya dan ini akan
dihitung sebagai respon komponen sampel. Detektor TCD banyak digunakan untuk
analisis gas.
c.
Electron Capture Detector (ECD)
Detektor
khusus untuk mendeteksi senyawaan halogen organik. Secara prinsip, komponen
sampel akan ditembak dengan sumber radioaktif Nikel, dan jumlah elektron yang
hilang dari proses itu dianggap linear dengan konsentrasi senyawaan tersebut.
d.
Flame Photometric Detector (FPD)
Detektor
khusus untuk mendeteksi senyawaan sulfur, posfor dan atau timah organik. Prinsipnya
adalah pembakaran senyawaan komponen sehingga mengemisikan energi tertentu yang
akan dilewatkan ke filter tertentu (filter S, P atau Sn) kemudian akan
dideteksi oleh Photomultiflier.
e.
Flame Thermionic Detector(FTD)
Detektor
khusus untuk mendeteksi senyawaan nitrogen dan atau posfor organik. Prinsipnya
adalah pembakaran senyawaan komponen kemudian direaksikan dengan garam Rubidium
dan respon listrik yang dihasilkan akan diperkuat dan dikonversi menjadi satuan
tegangan. Banyak digunakan untuk analisis senyawaan pestisida.
f.
Mass Spectrometer (MS)
Detektor
khusus yang dapat digunakan baik untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif. Prinsip
pengukurannya adalah komponen sampel dipecah menjadi bentuk ion fragmennya
(baik secara elektronik maupun kimiawi) lalu ion fragmen tersebut dilewatkan ke
Mass Analyzer untuk memisahkan ion berdasarkan perbedaan massa/muatan dan
selanjutnya diteruskan ke ion detector untuk mendeteksi jumlah ion yang
dihasilkan. Spektrum fragmen yang dihasilkan oleh masing-masing komponen akan
menunjukkan karakteristik yang khas, dan ini digunakan untuk tujuan
identifikasi kualitatif dengan membandingkan dengan database atau library
spektrum yang telah ada.
5. Pencatat (Read Out)
Fungsi readout adalah
sebagai alat untuk mencetak hasil percobaan pada sebuah kertas yang hasilnya
disebut kromatogram (kumpulan puncak grafik)
B.Kelebihan dan Kekurangan Kromatografi Gas
Kromatografi Gas
memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan metode kromatografi lainnya,
antara lain:
1. Analisis dapat dilakukan dengan cepat
2. Sensivitasnya tinggi
3. Mampu mengidentifikasi konstituen renik
4. Batas deteksi sampai dengan 10-9 g/L
5. Dapat dilengkapi sistem komputer untuk mengontrol
bagian- bagian kromatogram dan menyimpan data hasil percobaan dalam memorinya
Sedangkan kekurangan
kromatografi Gas di antaranya:
1. Teknik kromatografi gas terbatas untuk zat yang
mudah menguap
2. Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk
memisahkan campuran dalam umlah besar. Pemisahan pada tinkat mg mudah
dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan
dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode lain.
3. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair
tidak bersifat reaktif terhadap fasa diam dan zat terlarut.







Komentar
Posting Komentar