Masih ingatkah kau dengan 4
potong foto itu? 4 potong foto yang tak seharusnya terabadikan. 4 potong foto
yang akan membawa pada puncak masalah jika mereka tau. Sudah lewat dua tahun,
tapi kenapa aku masih suka mengingat hal yang harusnya tak perlu diingat. Apa
ini yang namanya penyesalan itu? Apa ini yang namanya perasaan belum menerima
sepenuhnya?
Hei, apa kau juga merasakan hal
yang sama? Apa kau juga kadang suka mengingat hal yang sama yang pernah
terjadi? Apa kau juga suka menengok sebentar 4 potong foto itu? Entah dengan
penuh harap, kecewa atau mungkin sudah terlupa?
Munafik, yah. Hanya ekspresi itu
yang selalu aku tampilkan di hadapan siapapun yang pernah mengenal tentang
cerita kita. karena memang aku tidak punya alasan lain untuk terus bersikap menyesal
menyetujui sebuah pengakhiran kisah itu.
Entahlah, apa yang sedang aku
lakukan. Mungkin aku lagi kumat sintingnya. Hehe. Kesintingan yang masih belum
berhenti menyiksa dan menagih keteguhan dan ketegaran akan sebuah penerimaan.
Memnag sudah tidak perlu ditanya lagi, apakah aku akan bertindak mengakhiri
perasaan yang begitu memuakkan ini dengan mengatakan yang sebenarnya. Tapi memang
aku tak akan melakukan hal itu. Karena jujur saat ini hanya akan memperburuk
keadaan, ya meski kita sama-sma tahu, atau aku menganggapnya kita sama-sama
tahu.
Ketika semua memutuskan untuk
mengakhirinya, seketika itu harusnya jalan kita sudah terpisah. Tak lagi satu
jalur. Kita telah menempuh jalan yang berbeda. Tak ada hakku untukku menginterupsi
jalanmu, begitu pula sebaliknya. Aku hanyalah aku yang sekarang yang tak harus
mengaitkan apa yang aku lakukan denganmu, begitu pula sebaliknya. Kita punya
jalan masing-masing yang harus terus ditempuh, entah suatu saat nanti jalan
kita akan kembali sejalur atau tidak. Tapi yang pasti saat ini jalan kita
sedang berbeda.
Banyak hal yang aku rahasiakan
dari segala macam bentuk rahasia yang tak aku percayakan kau mengetahuinya.
Maaf. Bukan bermaksud menyekat, tapi memang itulah adanya. Tak semua yang aku
tahu kau juga harus tahu. Begitu pula sebaliknya, tak semua yang kau tahu, kau
harus melaporkannya padaku. Kita punya buku masing-masing yang harus kita isi
dengan kisah kita. kita tak bisa berbagi buku.
Aku adalah adanya aku yang tak
harus menunggu adanya hadirmu untuk membuktikan bahwa aku ada dan berada.
Begitu pula denganmu. Sudah telalu jauh semua berakhir, lalu kenapa aku masih
suka mengingatnya? Huft! Menyebalkan.
Yah, seperti hal yang biasa aku lakukan
untuk meredam segala macam bentuk perasaan tidak enak itu adalah menghembuskan
nafas keras-keras. Berharap segala macam bentuk ketidak nyamanan itu ikut keluar
dari dadaku bersamaan dengan nafas tersebut. Agar dadaku tidak lagi sesak.
Cobalah, barangkali kau juga bisa merasakan hal yang sama. Sejenak merasa
plong.
Ya, sampai di sini. Sedikit apa
yang aku rasa yang ingin kau tahu, tapi tak bisa dan tak mau aku utarakan
padamu. Cukup di sini. Cukup di sini. Tak perlu dilanjut di sana. Tak perlu kau
tahu. Tak perlu. Sama sekali tak perlu. Ku harap perasaan tidak mengenakkan ini
segera usai. Seperti usainya kisah ‘terlarang’ kita.
Komentar
Posting Komentar