CELOTEH TENGAH MALAM


Kadang terasa penat saat banyak pekerjaan menyerbu. Tapi cukup bahagia juga karena tandanya aku masih dibutuhkan dan bisa bermanfaat. Menjadi orang sibuk atau menyibukkan diri menjadi sangat menyenangkan karena tak lagi harus teringat akan kegundahan dan kegalauan hati yang merasa sendiri tak berkawan. Haha. Lupakanlah fase alay itu.
Aku sudah 20 tahun menghirup udara di pelataran bumi ini, bukanlah saatnya aku terus menerus bermain memuaskan kemalasan. Boleh saja bermain dengan alur hidup yang aku tempuh, tapi jangan berani-beraninya mempermainkan hidup dengan membiarkan waktuku terbuang percuma dengan segala macam bentuk kemalasan, keluhan, kesia-siaan yang berakhir pada kegagalan, kekecewaan dan penyesalan karena aku tak dapat menyelesaikannya dengan maksimal.
Bukan, sekarang bukan saatnya terus mengeluh. Sudah cukup. Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk menggunakan waktumu seoptimal mungkin untuk memperbaiki kefungsian dari setiap detik waktu yang akan kau lewati ke depannya.
Ya, aku berjanji itu. Aku ingin menjadi orang yang bisa memberikan manfaat pada yang lainnya dengan kualitas yang aku rajut dengan usaha dan kerja keras.
Masa muda adalah masa dimana seluas-luasnya lahan karya harus digarap. Bukan leyeh-leyeh bersedekap kemalasan dan kemewahan. Memang dewasa ini dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang menawarkan berbagai macam kemudahan lewat penggunaan peralatan elektronik tersebut. Tapi kemudahan itu tentunya bukan kemudahan dalam artian cara instan untuk sukses atau untuk meningkatkan kualitas diri. Segala alat itu hanyalah instrumen untuk memudahkan saja, membantu, bukan jalan utama.
Usaha, karya dan karsa kitalah pokok utama yang harusnya kita kejar. Sebuah usaha yang akan melempar kita pada sebuah proses penggodokan diri. Karena memang semakin banyak usaha dan pekerjaan yang kita lakukan, akan semakin meningkatkan kualitas diri kita.
Semakin membludaknya penduduk dunia harusnya menjadi bahan pertimbangan kita, harus memposisikan dimanakah kita di tengah gerumulan manusia dunia? Kita bagian dari dunia itu, harusnya turut mempertimbangkan pula apa yang kiranya kita lakukan untuk memainka peran “ambil bagian itu”.
Berbicara tentang kualitas diri mungkin aku masih belum pantas berkisah panjang lebar tentangnya, takutnya nanti malah kaburo maqtan. Yah, tapi yang namanya argumen boleh-boleh saja kan? Toh, aku juga sedang berusaha. Toh, aku juga tak berniat menggurui dengan sok, tapi juga turut memperi pelajaran pada diri sendiri betapa masih jauh kualitas diri yang ingin aku kejar. Hehe
Nah, sekarang sudah menginjak pada semester baru. Semester 5, bukanlah angka yang terbilang muda. Jadi, yang perlu aku lakukan adalah mencoba menseriusi apa yang telah aku ambil sumpah sejak awal. Aku yang memulai dengan sangat berharap, jadi aku harus menyelesaikannya dengan penuh harap gemilang pula. J
Aku pernah berkata kalau ingin jadi seorang jurnalis, jadi yang perlu aku lakukan adalah terus melatih tulisanku yang tiada lain memang harus sering melatih gerak tari jemari di atas potongan alfabet.
Aku pernah bilang jika ingin sekali-kali menjadi seorang pemimpin atau ketua, jadi yang perlu aku lakuakan adalah bersikap layaknya bagaimana seorang pemimpin. Aku harus benar-benar siap untuk menghadapinya. Seorang pemimpin tidak boleh punya hati yang melempem dan penakut. Tapi harus lebih berani speak-up, yang tentunya harus pula menguatkan nalar dan intelegensinya.
Aku pernah berkata bahwa aku ingin mengabdikan hidupku demi kemanfaatan orang lain sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya. Jadi yang perlu aku lakukan sekarang adalah merauk sebanyak-banyaknya bahan untuk bisa nantinya bermanfaat. Apa itu bahan-bahannya? Ya tentu saja ilmu dan pengalaman, karena yang ingin aku bagi adalah ilmu dan pengalaman  -bukan harta-  yang aku dapat selama ada di Surabaya ini. Jika sekarang saja sudah malas-malasan, lalu apa yang hendak aku bagi nanti saat pengabdian? Cerita tentang betapa malas dan pengecutnya aku yang tak mau menghadapi dunia? Oh, tentu saja tidak. Sama sekali tidaaaakkk maauuu....
So, saatnya serius bermain-main dengan kehidupan. Atau bermain-main serius dengan kehidupan? Entahlah apapun sebutannya, yang jelas aku ingin berusaha lebih keras lagi yang tentu saja tidak benar-benar serius dalam artian ngotot. Ini hidupku, yang perlu aku lakukan adalah membuatnya menjadi bagian yang berarti dari “ambil bagian” akan peran dan fungsi manusia bumi.
Aku masih muda, harusnya dipenuhi dengan semangat yang membakar. Tak perlu merasa sering merasa lelah dan cepat lelah dalam berkarya. Bukan saatnya untuk merasa lelah, masih belum saatnya. Saatnya sekarang adalah sebanyak-banyaknya mencipta karya.

S-E-M-A-N-G-A-T J J J

Komentar