*nemu
bacaan menarik jd gatal untuk komen n nulis ttg "kedewasaan Indonesia d
usianya y 68 tahun”
Dawuh paman
Montesquieu bahwa ”Prinsip demokrasi dikorup bukan saja ketika spirit
kesetaraan hilang, melainkan juga ketika spirit kesetaraan yang ekstrem
berlangsung—manakala setiap orang merasa pantas memimpin.”
dan tanda-tanda itu
sudah mulai muncul di usia Indonesia yang mencapai 68 tahun. Lalu, kondisi yang
seperti ini bisa di anggap bahwa Indonesia sudah dewasa? Bermain catur politik
yang kadang mulai menampakkan taring narsisme pada diri sendiri, mengaku paling
berhak menjadi presiden, menjadi pemimpin negri ini?
Para
petarung di dunia perpolitikan saling depak dengan mengompensasikan
kekurangannya dengan melipatgandakan manipulasi pencitraan. Nilai rekayasa
kemasannya jauh lebih besar ketimbang nilai sumbangsihnya terhadap bangsa.
Situasi inilah yang melahirkan onggokan sampah pemimpin plastik, yang tidak
otentik dalam ruang publik kita. Sosok pemimpin yang justru akan membawa
Indonesia menuju arah yang lebih terpuruk yang dimanipulasi seolah keadaan yang terpuruk itu sudah
sangat diusahakkan untuk diminimalisir kerugianya. Namun pada kenyataannya,
Indonesia yang kata orang adalah tanah surga malah membuat rakyatnya seperti
tikus yang mati dalam lumbung padi. Padahal para "tikus-tikus" itulah
yang ongkang-ongkang kaki duduk reriungan menikmati tanah surga ini.
Pemimpin
narsistik adalah pemimpin plastik tak pernah menghiraukan isi hidup dan arah
hidup. Meminjam ungkapan Bung Karno, adalah pemimpin yang cetek. Ia adalah
pemimpin penggemar emas sepuhan, bukan emas murni. Ia cinta kepada gebyarnya
lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Sebuah bangsa besar yang
dirundung banyak masalah hendak dipimpinnya bukan dengan kekuatan visi,
melainkan dengan impresi.
Harusnya,
pada masa krisis dengan beragam fenomena disorganisasi sosial, dunia politik
justru memerlukan peran kepemimpinan yang lebih besar. Yang diperlukan bukan
saja pemimpin yang baik (good leader), melainkan pemimpin agung (great
leader). Keagungan di sini tidaklah merefleksikan kapasitas untuk
mendominasi dan memaksa, tetapi terpancar dari kesejatian karakter untuk
mengasihi, melindungi, mengurus, dan menertibkan. Indonesia sudah saatnya mulai
belajar bersikap dewasa, jangan cuma enak bermain sana-sini. karena masalah
kenegaraan adalah masalah yang serius yang harus ditangani oleh orang-orang yang
serius pula untuk menyelesaikannya.
Pergeseran
ke arah individualisme tanpa kekuatan individualitas melahirkan buih-buih
kerumunan di ruang publik. Mentalitas kerumunan tanpa kapasitas nalar publik
inilah yang rentan dimanipulasi oleh mesin pencitraan dan politik uang atau
dipersuasi oleh sentimen tribalisme dalam bentuk fundamentalisme, premanisme,
dan nepotisme.
Demokrasi
individualisme di tengah mentalitas kerumunan itulah yang memberi peluang bagi
tampilnya dua jenis pemimpin yang meramaikan ruang publik: mereka yang gila
presiden atau presiden gila. Padahal, yang cocok untuk memulihkan krisis dan
membawa transformasi bangsa ke depan adalah pemimpin eksentrik yang ”setengah
gila”. (Ls)
Komentar
Posting Komentar