Angin lembah yang masih sama seperti dulu. Senja yang masih saja mampu menyihir
eksotisme mata. Dan aroma rumput yang seolah seperti harum kesturi,
mendamaikan, menghipnotisku menuju alam bawah sadar bahwa hidup yang aku
inginkan adalah di sini. Hanya di sini...
Ah, hanya lamunan nakal saja yang terus aku keluhkan. Kejenuhan
hidup di kota benar-benar membuatku terkadang bosan, namun sekali lagi yang aku
sadari adalah aku hanya butuh istirahat sejenak agar jenuh itu tak mengabsorpsi
kebahagiaanku. Hanya lelah yang harus disembuhkan oleh istirahat, setelah itu
kembali pada rutinitas yang aku cintai... dunia kerja, dunia jurnalistik....
Entah kenapa semenjak peristiwa saat itu, aku ketagihan ke tempat
ini dan selalu berharap bisa kembali bertemu dengannya. Lama.... senja beranjak
menenggelamkan hari menuju gulitanya malam. Ia yang ku harap tak kunjung
menampakkan diri. Hufh! “Muncullah, aku sudah rindu....”
Senja di hari berikutnya aku kembali. Masih tetap sama. Tak terjadi
apa-apa. Jiwaku terguncang, “Aku mohon muncullah. Jangan siksa aku dengan
kerinduan ini...”
“Apa kamu marah? Apa kamu
sudah pergi? “
Angin lembah kembali menyapa menyambut senja yang masih saja
eksotis. Rerumputanpun turut menari dibuai angin, sesekali wewangian bunga dari
kebun mawar menyusup kehidungku. Sekilas terlihat kilatan sinar melintas di
daerah pandanganku. “Akhirnya kau datang juga....”
Sumringah senyum sembari kuulurkan sambut tangan yang ia tawarkan.
Sayap putih kemilaunya mulai mengepak, seolah mengerti keinginanku untuk
sejenak menghabiskan waktu bersamanya. Elastisitas waktu seolah mengajakku
bermain manja di antara dua titik kesadaran. Dibuai rasa yang entah bisa didefinisikan
sebagai perasaan apa ini. Entah bagian otakku yang mana yang kini tengah
teraktifkan dan membabi buta mengoyak alam sadarku. Nurani seperti sedang
ditutup matanya dan dimanja untuk mengalihkan tugasnya atas menyadarkan aku
pada sesuatu yang tak seharusnya dibenarkan menurut pendefinisian
kemanusiawianku.
Terlalu nyaman merasakan badan yang ringan dan terbang mengelilingi
angkasa bersama beberapa peri bersayap. Lama, otot punggungku bergeliat serasa
ada anggota badan baru yang tumbuh. Yah, aku juga memiliki sayap. Aku tak
peduli pada saat peri-peri itu mengusap punggungku dengan serbuk yang mereka
sebut ‘serbuk pixie’. Beberapa kali aku melihat peri yang turun dari terbangnya
untuk membubuhkan bubuk itu sebelum kembali terbang. Ternyata memang begitu
mekanismenya. Bubuk pixie itu adalah bubuk ajaib yang mampu membuat sayap
berkilau, jika kilau itu berkurang, tandanya sayap itu minta di ‘pakani’ dengan
bubuk pixie itu. Hehe... Aku bahagia, inikah yang namanya terbang?
Menyenangkan.
“Kaukah manusia itu?” Peri
bersayap hijau bentuk kupu-kupu bertanya, dia Raja Oberon. Tak tahu dari mana
aku bisa mengerti bahasanya.
“Iya”
“Siapa namamu?”
“Namaku Aras”
“Apa tujuanmu kemari, wahai manusia?“ Peri putih bersayap seperti capung tampak tak
senang, yang ini sepertinya Ratu Titania.
“Aku hanya ingin bersama Agavatra” Jawabku sekenanya.
“Begitukah? Bersediakah kau setia pada nasib yang akan diberikan sayapmu?”
Ucapan itu bisa dianggap sebagai pengangkatan sumpah untuk setia
menjaga tata etika kehidupan peri. Aku mengangguk. Tak tahu dari mana
kelancangan mengiyakan itu berasal. Yang ada dalam inginku hanyalah Agavatra.
Segera diadakanlah upacara pengangkatan peri di tempat yang mereka
sebut altar kesucian dimana seluruh clan berkumpul melihat kesaksian itu.
Di negeri peri ini ada empat
clan peri. Clan Sylph adalah peri penguasa mantra, seperti Ratu Titania dan
Agavatra. Clan Salamander adalah peri api yang hampir turun temurun menjadi
Raja negeri ini, seperti Raja Oberon. Clan Spriggan adalah peri pemanah dan
bisa merubah diri menjadi bentuk monster yang besar. Dan terakhir Clan Cait
Sith adalah peri tanah yang tak bersayap, biasa di sebut peri pekerja. Dan sayapku
memilihku bergabung dengan Clan Spriggan. Peri pemanah? Inikah aku?
Sekian satuan waktu terlalui. Setiap saat bersama Agavatra begitu
indah. Pagi hari yang selalu membuatku tak henti terkagum-kagum karena begitu
aku bangun, kelopak bunga turut membuka menyambut kehangatan salam sapa mentari,
segarnya udara semilir yang menerbangkan harum bunga dan aroma mistis yang
selalu menyihirku, bahwa tidak ada tempat yang lebih nyaman dari pada kehidupan
di sini. Setiap hari bersenang-senang melintasi langit dan membantu lebah
mengenali si jelita bunga untuk dibuahinya, atau membantu burung menemukan sarang
yang tepat untuk merawat anak-anaknya. Mungkin kalau dalam dunia nyata hubungan aku
dan Agavatra sudah mencapai taraf suami istri.
Suami istri? Kata-kata itu tidak berlaku di negeri peri. Tapi
istilah itu masih aku kenali dalam satu gelembung ingatanku. Berbagai pertanyaan
sinting menyerang malam-malamku hingga membuat tidur nyenyak begitu memuakkan
dan terbang bersama sayap ini tak lagi menakjubkan. Ini bukanlah duniaku. Aku
adalah manusia, bukan peri. Aku adalah ayah dari seorang anak dan suami dari
istriku. Bagaimana keadaanmu Egis, balita kecilku? Bagaimana kabarmu istriku?
Aku tak tahan lagi memerangi perasaanku. Aku ingat peri Clan Sylph
pernah bercerita kalau Ratu Titania menguasai berbagai mantra, termasuk untuk
menembus barier lapis sepuluh yang dapat menyeberang ke alam manusia. Ide gila
muncul, aku menghadap Ratu Titania.
“Adakah jalan untukku kembali ke bumi, Ratu?” Pertanyaan bodoh yang
membuat senyum Sang Ratu sedikit meluntur, tak senang.
“Sekali kau masuk ke dunia peri, tidak akan bisa kembali dengan
selamat” wajah murka Ratu terlihat jelas tak suka.
“Aku mohon, Ratu. Aku ingin kembali ke bumi”
“Tarik kembali ucapanmu, Aras. Kau telah melanggar takdir yang
diberikan sayapmu. Kau tahu itu artinya apa?” Raja Oberon tampak tak senang.
“Aku ingin pulang ke bumi. Ini bukan takdir yang harusnya aku
jalani, Raja. Aku mohon kemurahan hatimu untuk mengembalikanku ke bumi”
Raja Oberon melirik peri pengawal. Itu sudah cukup membuat dua peri
pengawal untuk membawaku menuju sebuah ruangan yang mirip dengan penjara.
Tiba-tiba kilau sayapku sirna. Aku masih punya sisa bubuk pixie, tapi percuma.
Aku rasa ruang tahan ini memang dibuat seperti area anti bubuk pixie.
Tak seberapa lama aku terkurung dalam kebingungan, Ratu Titania
datang.
“Evesio-natura-ragastav-nefiro”Entah sihir macam apa yang dibaca
Ratu Titania hingga pintu tahanan terbuka. Berhadapan dengan peri yang
diratukan negeri ini membuat adrenalinku melonjak-lonjak.
“Kenapa kau ingin kembali?”
“Aku hanya merasa di sini bukanlah duniaku. Di bumi aku punya anak
dan istri yang menjadi tanggung jawab besarku, Ratu”
“Bagaimana dengan Agavatra, anakku?”
“Aku juga menyayangi Agavatra”
Ratu Titania tertawa, “Agavatra sejak kecil adalah peri yang cerdas
dan jahil. Dia sering membuat seisi negeri ini kewalahan dengan kenakalannya.
Pernah dia membakar janggut putih peri buku saat tertidur hingga ia bisa mengambil buku mantra
terlarang karena tongkat pengunci buku ikut terbakar bersama janggutnya. Hehe....
Seisi negeri kacau bahkan hampir membuat barier tingkat sepuluh ditembus.
Petinggi peri Clan Sylph kalang kabut dibuatnya. Karena kalau barier itu
tertembus, tidak ada lagi tabir antara dunia manusia dan dunia peri”
“Tabir?”
“Iya, selama ini manusia tak dapat ikut campur dunia peri karena
penglihatannya ditutup tabir”
Aku menyimak. Sempat terbentuk kesimpulan bahwa selain Ratu
Titania, Agavatra bisa membantuku. Tapi masalahnya apa mungkin dia bersedia?
“Jika kau ingin tinggal bersama Agavatra di sini, kau harus
menerima takdir yang diberikan sayapmu. Besok datanglah ke altar kesucian untuk
menerima nasib yang ditakdirkan oleh sayapmu. Ini kesempatan terakhirmu”
Aku terdiam, mencerna makna
dibalik kata-kata Sang Ratu yang mulai menghilang.
Agavatra muncul. Aku tak tahu harus berbicara apa pada Agavatra
yang aku akui sebagi cinta pertamaku ini.
“Kau sungguh-sungguh ingin kembali? Pulang?” Tanya Agavatra lembut
sembari meraba wajahku.
“Aku tidak tahu. Yang ada dalam fikiranku kali ini hanyalah merasa
bersalah pada keluarga yang aku tinggal. Maaf, Agavatra”
“Baiklah. Besok saat kau di altar kesucian, ikuti saja apa yang
dititahkan Ayahanda Raja Oberon”
“Maksudmu?”
Dia pergi begitu saja..... Kenapa? Ada apa? Kau juga membenciku?
Tibalah saat aku diminta pengakuan dosa. Aku tak berdaya selain
mengucap tobatku. Raja Oberon menerima ‘pertobatanku’. Aku bebas.
.......¤§¤ ¤§¤ ¤§¤......
Agavatra mengajakku pada suatu lembah sunyi mirip padang savana.
“Setiafta-aproides-navagna-selinwa-heavagla-brestano-datasro-famaktami-rataksava....”Agavatra
merapalkan mantra yang sama sekali tak aku tahu. Tak lama kemudian muncul
semacam portal yang mengeluarkan energi luar biasa hebatnya. Agavatra menarik
tanganku untuk turut mengarahkan tangan pada portal itu.
“Kau bisa kembali ke dunia manusia setelah melewati portal ini.
Maafkan aku sudah membawamu ke tempat ini”
“Ssttt...” ku sentuhkan telunjukku pada bibir Agavatra yang lembut.
Agavatra menarik tanganku kemudian memelukku erat, erat sekali. “Kembalilah pada duniamu dimana kau merasa itu adalah rumahmu”
Agavatra menarik tanganku kemudian memelukku erat, erat sekali. “Kembalilah pada duniamu dimana kau merasa itu adalah rumahmu”
Dadaku sesak. Ada perasaan tak ingin berpisah dengan Agavatra yang
begitu lembut, indah dan terlalu baik pada manusia yang kurang ajar sepertiku.
“Cepatlah. Portal ini akan segera tertutup kembali”
“Baiklah. Terimakasih, Agavatra. Aku mencintaimu. Kau tahu itu
dengan pasti” kucium keningnya dan menatap dalam mata indahnya yang berwarna
hijau.
Portal itu segera menghisapku. Menghancurkan sayap berkilauku.
Memberiku kesakitan yang luar biasa. Dan tibalah aku di antara kesadaran yang karenanya,
tak bisa aku gerakkan badanku, samar kudengar sesengguk tangis. Suara siapa itu?
Siapa yang menagis? Ayolah mataku, cepatlah kau terbuka......
“Araasss......”
Tangis bercampur serotan ingus berhias senyum dari seorang
perempuan paruh baya menyambut kembalinya aku pada dunia yang bernama Bumi.
“Egiiisss.... Ayahmu sudah sadar, Nak.” perempuan itu berteriak. Memangil
Egis, apa benar yang dia panggil adalah Egis kecil anakku? Tapi mengapa yang
menghambur kearahku adalah seorang gadis.
“Ayaahh...” gadis itu memelukku erat.
“Siapa kamu?”
“Ayah, ini aku. Egis. Ayah sudah
lebih dari dua puluh tahun tidak sadarkan diri”
Dua puluh tahun? Selama itukah aku meninggalkan dunia ini? Dua puluh
tahun aku di negeri peri? Dua puluh tahun aku bersama Agavatra?
“Aku senang kau sudah sadar, sayang” perempuan setengah baya tadi
menyambar kedua tanganku lalu menciumnya.
“Kamu......”
“Iya, aku Rianti, istrimu...” tangisnya semakin menjadi.
Sesak dadaku rasanya melihat airmata itu. Yah, Rianti istriku yang
selalu mencintaiku apa adanya sejak dahulu. Maafkan aku, istriku. Aku bodoh
sudah menelantarkan istri sebaik kau.
“Maafkan aku, Rianti...” Airmataku jatuh....
Belakangan aku dengar dari Egis bahwa aku ditemukan pingsan di
lembah itu dengan memegang sejenis jamur di tanganku. Menurut dokter, ada
indikasi senyawa toxin jamur mirip jamur Amanita muscaria itulah yang
menyebabkan aku kehilangan kesadaran bahkan hingga dua puluh tahun ini.
Tapi bagiku, bukan hilang kesadaran. Bukan keracunan jamur. Tapi
kisah bersama Agavatra di dunia peri yang tengah aku alami sementara tubuhku
terkapar tak sadarkan diri di alam manusia. Tapi cerita bersama Agavatra tak
mungkin aku ceritakan pada mereka semua. Karena bagiku, Agavatra adalah kisah
yang hanya boleh dikonsumsi oleh otak
dan hatiku sendri. Karena Agavatra adalah cinta pertamaku, cinta yang melampaui
derajat kemanusiawianku.....
Agavatra.....
Duniaku, duniamu mengarak rajutan cerita yang terbingkai abadi
dalam cela-cela memori. Duniaku, duniamu bersuara dalam bahasa kasih yang tak
dapat di uraikan dalam 26 huruf alfabet. Duniaku, duniamu bersatu dalam kisah
cinta yang belum pernah ada, karena kisah kita jelas sekali berbeda dari kisah
Romeo dan Juliet, Laila dan Qo’is, ataupun sang putri dan pangeran di negri
dongeng yang selalu happy ending
ever after. Tidak, sama sekali tidak begitu. Cintaku, cintamu telah menyatu
dalam keabadian dan keindahan memiliki satu sama lain. (Ls)

Komentar
Posting Komentar