EMPAT PILAR TANAH AIR

*resensi ini dimuat juga di http://esq-news.com/2013/berita/05/28/empat-pilar-tanah-air.htm
Judul buku      : Pulang, Sebuah Novel
Penulis             : Leila S. Chudori
Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer  Gramedia)
Tebal buku      : viii + 464; 13.5 x 20 cm
Tahun Terbit    : I, Desember 2012II, Januari 2013

Harga              : Rp. 70.000,00


            Siapakah pemilik sejarah? Siapa yang menentukan siapa yang menjadi pahlawan dan siapa yang penjahat? Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?
Mereka, sejarawan yang dipesan oleh pemerintah menulis sejarah September? Atau mereka para sejarawan dan intelektual yang nekat mempertanyakan berbagai hal yang tak tertulis dalam ‘sejarah’? Aku tahu ada segelintir sejarawan Indonesia yang sudah lama gatal untuk menggali, dan menggugat sejarah versi Orde Baru. Aku tahu mereka menggerundeng- tentu saja dengan gerutuan ilmiah- tentang pembelokan sejarah dan amplikasi di sana-sini agar beberapa tokoh tampak seperti pahlawan. Lalu  pemilik sejarah adalah penggenggam kekuasaan atau perenggut kekuasaan dan kelas menengah yang haus harta dan tak keberatan duduk reriungan mesra dengan penguasa ? (Hal.288)
Cuplikan di atas adalah sebuah pertanyaan yang benar-benar menggugah nurani kita untuk berfikir tentang apa yang terjadi dengan ‘sejarah’ bangsa kita. Tragedi  politik dan kemanusiaan yang menumbalkan banyak nyawa manusia dalam kesia-siaan dimana setiap anggota partai komunis, keluarga partai komunis atau mereka yang dianggap simpatisan komunis diburu habis-habisan. Bukan sekedar ditangkap, tapi terjadi eksekusi besar-besaran seantero Indonesia. (Hal.72)
Peristiwa September 1965, Orde Baru hingga berganti era reformasi ini dibungkus apik oleh  Leila S. Chudori dalam sebuah novel yang berjudul ‘pulang’. Kisah perjalanan lima sahabat yang sama-sama bekerja di kantor berita Nusantara,  hingga akhirnya nasib mengantarkan keempatnya menginjak tanah Paris. Sedang Hananto yang lebih memilih bertahan di Indonesia menemui ajalnya, dieksekusi dengan status tahanan politik beraliran kiri. Ia meninggalkan istrinya, Surti dan ketiga anaknya, Kenanga, Bulan dan Alam yang turut pula dicap sebagai tapol (tahanan politik).
Peristiwa Paris, mei 1968, peristiwa yang mempertemukan tokoh Dimas Suryo dengan seorang Vivienne Deveraux, kisah cinta yang pada akhirnya terpaksa kandas meski telah hadir Lintang Utara, buah hati mereka.
Dimas, Risjaf, Nug dan Tjai adalah empat pilar yang berhasil mendirikan sebuah restoran Indonesia yang diberi nama Tanah Air yang sempat disebut-sebut sarang PKI namun di sisi lain malah lebih pantas disebut sebagai duta kebudayaan di Paris yang sebenarnya.(Hal. 122)
Kehidupan yang terbilang nyaman di Paris,  bukan berarti membuat keempat sahabat ini melupakan kekacauan di negerinya. Keinginan untuk pulang selalu menggebu, terlebih bagi seorang Dimas. Mereka tak bisa pulang ke negaranya sendiri sebab paspornya ditarik oleh pemerintah karena mereka dicap sebagai eksil politik.
Cerita semakin sarat akan puncak-puncak klimaks ketika Lintang Utara memutuskan menengok tanah kelahirannya yang lain-selain Prancis, yaitu Indonesia. Tahun 1998, Lintang berhasil terbang ke Jakarta dengan bantuan diplomat junior Indonesia, teman Nara.  Misi terbesarya adalah merekam kisah peristiwa 30 September 1965 serta mewawancarai korban yang merasakannya sebagai tugas akhir kuliahnya. Salah satu korban yang diwawancarai adalah Surti, yang mengungkap kisah memilukannya ketika diintrogasi. Sejarah yang juga mengungkap keterkaitannya dengan ayah dan kawan-kawan ayah Lintang di masa lalu.
Kedatangan  Lintang bertepatan dengan peristiwa berdarah Trisakti dan kerusuhan Mei 1998. Bersama dengan Alam, Lintang menjadi saksi penting dalam sejarah negeri Indonesia bagaimana lengsernya presiden yang telah berkuasa selama 32 tahun.
‘Pulang’ adalah drama keluarga, persahabatan, pun pula cinta yang dibungkus apik dalam sebuah novel yang berseting tiga peristiwa besar, yaitu G30S/PKI 1965, Paris 1968 dan Mei 1998 yang diramaikan dengan keindahan bahasa, dialog mantiki dan tentu saja pengetahuan matang tentang sejarah yang dirangkai tidak mengintervensi. Karakter ‘Pulang’ semakin kuat didukung oleh gaya kepenulisannya yang tak monoton dengan satu sudut pandang, tapi dari berbagai sudut pandang tokoh yang menghidupi novel ini.
Novel yang digarap sejak 2006 hingga 2012 ini benar-benar layak mendapat tempat di ruang perhatian masyarakat Indonesia karena dengan membacanya, kita tersadar bahwa inilah sejarah, inilah perjalanan bangsa kita. Karena selayaknya, ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Dan jasa  pahlawan itu tercermin dalam ‘sejarah’.
Selamat membaca lejitan kata dan kisahnya!

*Peresensi adalah mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga sekaligus pengurus CSS MoRA Universitas Airlangga.





           

Komentar