Judul
buku : Pulang, Sebuah Novel
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal buku : viii + 464; 13.5 x 20 cm
Tahun Terbit : I, Desember 2012II, Januari 2013
Harga : Rp. 70.000,00
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal buku : viii + 464; 13.5 x 20 cm
Tahun Terbit : I, Desember 2012II, Januari 2013
Harga : Rp. 70.000,00
Siapakah pemilik sejarah? Siapa yang menentukan siapa yang menjadi
pahlawan dan siapa yang penjahat? Siapa pula yang menentukan akurasi setiap
peristiwa?
Mereka, sejarawan yang dipesan oleh pemerintah menulis sejarah
September? Atau mereka para sejarawan dan intelektual yang nekat mempertanyakan
berbagai hal yang tak tertulis dalam ‘sejarah’? Aku tahu ada segelintir
sejarawan Indonesia yang sudah lama gatal untuk menggali, dan menggugat sejarah
versi Orde Baru. Aku tahu mereka menggerundeng- tentu saja dengan gerutuan
ilmiah- tentang pembelokan sejarah dan amplikasi di sana-sini agar beberapa
tokoh tampak seperti pahlawan. Lalu pemilik sejarah adalah penggenggam kekuasaan
atau perenggut kekuasaan dan kelas menengah yang haus harta dan tak keberatan
duduk reriungan mesra dengan penguasa ? (Hal.288)
Cuplikan di atas adalah sebuah pertanyaan yang benar-benar menggugah
nurani kita untuk berfikir tentang apa yang terjadi dengan ‘sejarah’ bangsa
kita. Tragedi politik dan kemanusiaan
yang menumbalkan banyak nyawa manusia dalam kesia-siaan dimana setiap anggota
partai komunis, keluarga partai komunis atau mereka yang dianggap simpatisan
komunis diburu habis-habisan. Bukan sekedar ditangkap, tapi terjadi eksekusi
besar-besaran seantero Indonesia. (Hal.72)
Peristiwa September 1965, Orde Baru hingga berganti era reformasi
ini dibungkus apik oleh Leila S. Chudori dalam sebuah novel yang berjudul ‘pulang’. Kisah
perjalanan lima sahabat yang sama-sama bekerja di kantor berita Nusantara, hingga akhirnya nasib mengantarkan keempatnya
menginjak tanah Paris. Sedang Hananto yang lebih memilih bertahan di Indonesia
menemui ajalnya, dieksekusi dengan status tahanan politik beraliran kiri. Ia meninggalkan
istrinya, Surti dan ketiga anaknya, Kenanga, Bulan dan Alam yang turut pula
dicap sebagai tapol (tahanan politik).
Peristiwa Paris, mei 1968, peristiwa yang
mempertemukan tokoh Dimas Suryo dengan seorang Vivienne Deveraux, kisah cinta
yang pada akhirnya terpaksa kandas meski telah hadir Lintang Utara, buah hati
mereka.
Dimas, Risjaf, Nug dan Tjai adalah empat pilar yang berhasil mendirikan
sebuah restoran Indonesia yang diberi nama Tanah Air yang sempat disebut-sebut
sarang PKI namun di sisi lain malah lebih pantas disebut sebagai duta
kebudayaan di Paris yang sebenarnya.(Hal. 122)
Kehidupan yang terbilang nyaman di Paris, bukan berarti membuat keempat sahabat ini
melupakan kekacauan di negerinya. Keinginan untuk pulang selalu menggebu,
terlebih bagi seorang Dimas. Mereka tak bisa pulang ke negaranya sendiri sebab
paspornya ditarik oleh pemerintah karena mereka dicap sebagai eksil politik.
Cerita semakin sarat akan puncak-puncak klimaks ketika Lintang Utara
memutuskan menengok tanah kelahirannya yang lain-selain Prancis, yaitu Indonesia.
Tahun 1998, Lintang berhasil terbang ke Jakarta dengan bantuan diplomat junior
Indonesia, teman Nara. Misi terbesarya
adalah merekam kisah peristiwa 30 September 1965 serta mewawancarai korban yang
merasakannya sebagai tugas akhir kuliahnya. Salah satu korban yang diwawancarai
adalah Surti, yang mengungkap kisah memilukannya ketika diintrogasi. Sejarah
yang juga mengungkap keterkaitannya dengan ayah dan kawan-kawan ayah Lintang di
masa lalu.
Kedatangan Lintang bertepatan dengan
peristiwa berdarah Trisakti dan kerusuhan Mei 1998. Bersama dengan Alam,
Lintang menjadi saksi penting dalam sejarah negeri Indonesia bagaimana
lengsernya presiden yang telah berkuasa selama 32 tahun.
‘Pulang’ adalah drama keluarga, persahabatan, pun pula cinta yang dibungkus
apik dalam sebuah novel yang berseting tiga peristiwa besar, yaitu G30S/PKI
1965, Paris 1968 dan Mei 1998 yang diramaikan dengan keindahan bahasa, dialog
mantiki dan tentu saja pengetahuan matang tentang sejarah yang dirangkai tidak
mengintervensi. Karakter ‘Pulang’ semakin kuat didukung oleh gaya kepenulisannya
yang tak monoton dengan satu sudut pandang, tapi dari berbagai sudut pandang
tokoh yang menghidupi novel ini.
Novel yang digarap sejak 2006 hingga 2012 ini benar-benar layak mendapat
tempat di ruang perhatian masyarakat Indonesia karena dengan membacanya, kita
tersadar bahwa inilah sejarah, inilah perjalanan bangsa kita. Karena selayaknya,
‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Dan jasa
pahlawan itu tercermin dalam ‘sejarah’.
Selamat membaca lejitan kata dan kisahnya!
*Peresensi adalah mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
sekaligus pengurus CSS MoRA Universitas Airlangga.

Komentar
Posting Komentar