Depresi berat atau stres kronis
dapat menyebabkan berkurangnya volume otak, yaitu suatu kondisi yang memberikan
kontribusi terhadap gangguan emosional dan kognitif. Saat ini, tim peneliti
yang dipimpin oleh para ilmuwan Yale telah menemukan satu alasan mengapa hal
ini terjadi. Hal tersebut terjadi karena adanya “saklar” genetik tunggal yang
memicu hilangnya koneksi otak pada manusia dan depresi pada hewan model.
Temuan yang dilaporkan dalam edisi
12 Agustus di jurnal Nature Medicine ini menunjukkan bahwa saklar genetik yang
dikenal sebagai faktor transkripsi telah merepresi ekspresi dari beberapa gen
yang diperlukan untuk pembentukan hubungan sinaptik antar sel otak. Pada
gilirannya, hal ini dapat menyebabkan hilangnya massa otak di korteks
prefrontal.
Ekspresi dari gen tunggal secara
dramatis mengurangi hubungan sinaptik antar sel otak. Ilmuwan Yale percaya
bahwa kemungkinan ini menjelaskan mengapa orang yang menderita stres kronis dan
depresi menderita kehilangan volume otak.
“Kami ingin menguji gagasan bahwa
stres daat menyebabkan hilangnya sinapsis otak pada manusia. Kami menunjukkan
bahwa sirkuit di otak yang biasanya terlibat dalam emosi serta kognisi,
terganggu ketika faktor transkripsi tunggal diaktifkan.” kata penulis
senior Ronald Duman, seorang professor di bidang psikiatri, neurobiologi dan
farmakologi di Elizabeth Mears dan House Jameson.
Tim peneliti menganalisis jaringan
dari pasien yang mengalami depresi dan yang tidak mengalami depresi. Jaringan
tersebut merupakan sumbangan dari sebuah bank otak yang juga sedang
mencari pola yang berbeda dari aktivasi gen. Otak pasien yang mengalami
depresi menunjukkan tingkat ekspresi gen lebih rendah yang diperlukan untuk menjalankan
fungsi dan struktur sinapsis otak. Penulis dan peneliti postdoctoral HJ Kang
menemukan bahwa sedikitnya lima gen ini dapat diatur oleh faktor transkripsi
tunggal yang disebut GATA1. Ketika faktor transkripsi diaktifkan, tikus
menunjukkan gejala seperti depresi, hal ini menunjukkan GATA1 memainkan peran
tidak hanya dalam hilangnya hubungan antara neuron tetapi juga dalam gejala
depresi.
Duman berteori bahwa variasi genetik
dalam GATA1 mungkin suatu hari dapat membantu mengidentifikasi orang yang berisiko
tinggi untuk mengalami depresi berat atau orang yang sensitive terhadap stres.
“Kami berharap bahwa dengan
meningkatkan hubungan sinaptik, baik dengan obat-obat baru atau terapi
perilaku, kita dapat mengembangkan terapi antidepresan yang lebih efektif,”
kata Duman.
Studi ini didanai oleh National
Institutes of Health and the Connecticut Department of Mental Health and
Addiction Services.
Referensi Jurnal :
1. Hyo Jung Kang, Bhavya Voleti, Tibor Hajszan, Grazyna Rajkowska, Craig A
Stockmeier, Pawel Licznerski, Ashley Lepack, Mahesh S Majik, Lak Shin Jeong,
Mounira Banasr, Hyeon Son, Ronald S Duman. Decreased expression of
synapse-related genes and loss of synapses in major depressive disorder. Nature
Medicine, 2012; DOI:10.1038/nm.2886
Artikel ini merupakan terjemahan dari tulisan ulang
berdasarkan materi yang disediakan oleh Yale University via science Daily. (12 Agustus
2012).
Komentar
Posting Komentar