KISAH ANTARA SI ILMU, ANILIN DAN KOFEIN



HAKIKAT TUJUAN HIDUP

Getar hp membangunkan aku jam 05.00 pagi hari, alarm. Badan terasa lesu dan masih tak rela hati meninggalkan kasur yang begitu berjasa selama ini mengantarkan aku menuju alam mimpi bawah sadar. Malam ini aku hanya mendapat jatah dua jam untuk tidur karena mengerjakan jurnal hingga jam tiga dini hari. Tak mengapa.
                Dengan hanya usai sarapan biskuit coklat dan satu tablet hisap vitamin aku berangkat kuliah tepat jam setengah tujuh. Yah, pagi ini aku praktikum kimia sintesis, anilin dengan dosen pembimbing Prof. Astika. Diskusi berlangsung sekitar dua jam bersama tujuh mahasiswa, dua mahasiswi preparat kofeina sedang aku bersama empat lainnya, preparat anilina. Diskusi berlangsung relatif santai penuh selingan tawa. Banyak pelajaran hidup yang aku dapat. Tentang jasa mulia si kofein yang senantiasa setia menjadikan pengkonsumsinya melek. Tentang si anilin yang berjasa dalam pe,buatan zaat warna dan obat-obatan.
Kofein jika dikonsumsi dapat mempercepat detak jantung sehingga aliran darah keseluruh tubuh relatif sempurna, alhasil pasokan oksigen pada otakpun lancar dan jadilah mata kita melek. Siaplah kofein menemani malam-malam lembur pengkonsumsi setianya. Hehe...
Benar memang kandungan kofein dalam teh lebih besar dibanding dalam kopi. Tapi kenapa justru si kopi yang sering dijadikan peneman melek ? ilustrasinya begini. Saat ibu atau ayahmu memintamu untuk membuat kopi dan teh, apa yang kamu lakukan ? pastinya untuk membuat kopi, kau membutuhkan gula dan serbuk kopi dan langsung ditambahi air panas. Sedang pada pembuatan teh, gula terlebih dahulu dularutkan dalam air sedang si teh hanya di sedu daan ampasnya dibuang. Artinya, sekalipun kandungan kofein pada teh lebih banyak (5 %), sedang pada kopi kandungan kofeinnya 2.5 %, tapi pada pembuatannya, kofein pada teh banyak yang tertinggal pada ampas teh yang hanya dicelupkan tadi.
Minum kopi sudah menjadi budaya tersendiri di Indonesia yang termasuk negara besar pemroduksi kopi. Budaya yang lazim adalah meminum kopi selagi hangat, hal tersebut dikarenakan kofein lebih larut dalam air panas.
Sebenarnya Kofein adalah serbuk atau hablur berbentuk jarum mengkilat, biasanya menggumpal; putih, tidak berbau, tidak berasa. Kofein ini biasanya digunakan untuk stimulan syaraf pusat dan kardiotonikum. namun, Kofein tidak terdapat bebas begitu saja di alam, tapi diketemuka dalam keadaan terikat dengan senyawa lain. Maka diperlukan pemisahan dengan pelarut yang sesuai yang kemudian dapat diisolasi.
Beralih pada anilin yang banyak digunakan sebagai bahan pembuat zat warna dan bahan pembentuk obat-obatan. Pembuatannya melalui proses reduksi nitrobenzena. Si anilin yang pada suhu kamar berupa cairan minyak yang tidak berwarna ini termasuk senyawa kimia berbahaya yang dapat merusak hati menyebabkan keguguran janin, dan perubahan genetik (karsinogen). Namun layaknya mata uang, mempunyai dua sisi berlawanan. Selain bsekian kerugian dan bahaya, anilin pun mempunya mafaat yang besar yaitu untuk pembuatan bahan-bahan celupan. Sedangkan bahan-bahan celupan ini adalah produk awal dalam pembuatan bermacam-macam obat seperti : Antipirin, Antifebrin, dan sebagainya. Dalam perdagangan digunakan tiga nama dagang untuk anilina, yaitu : minyak anilina untuk pewarnaan biru yang merupakn anilina murni, minyak anilina untuk pewarnaan merah yang merupakan pencampuran gugus orto dan para toluidin, serta monometil dan dimetil anilina yang sama-sama merupakan cairan tidak berwarna.
                Diluar masalah diskusi preparat yang akan kami kerjakan, banyak ilmu hidup yang aku dapat. Tentang hakikat hidup. Tentang kedudukan ilmu. Tentang humanoid.
                Ilmu itu banyak terdapat di alam bebas, tinggal bagaimana kita memahaminya, tinggal bagaimana kita merespon dan menghayatinya, tinggal bagaimaa kita mengisolasinya dari hal-hal negatif. Alam telah mengajarkan kita tentang keseimbangannya. Alam telah mengajarkan pada kita sebenarnya hidup itu apa. Hidup adalah bagaimana kita dapat membentuk pribadi jati diri, mematangkan jiwa dengan melapangkan dan menghayati pengertian. Alam memilih dan menyeleksi sendiri siapa yang pantas untuk bertahan hidup.
Dari sekian banyak ilmu, ilmu yang patut kita pelajari adalah ilmu yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita. Karena ilmu sejatinya adalah alat yang kita gunakan untuk mencari jati diri hidup dan hakikat tujuan hidup kita. Tidak ada gunanya mempelajari ilmu yang tidak kita mengerti atau tidak bisa kita aplikasikan dalam keseharian.
                Dalam kasus sederhana ketika Prof. Astika melempar pertanyaan “ bagaimana makan anggur yang benar ? “ atau “ bagaimana makan nanas secara ilmiah ? “, jawaban ilmiah lebih akan berharga ketimbang empiris yang terjadi selama ini.
                Anggur dimakan bersama bijinya karena dalam bijilah terdapat kandungan tanin. Cara makan nanas ada dua, jika perut masih kosong, lebih bagus nanas di masak dahulu. Dapat dimakan mentah jika setelah makan bebek panggang misalnya.
                Yang aku tau tentang hari ini meski melelahkan, pelajaran hidup itu selalu berlangsung setiap detiknya membentuk pemahaman baru pada pribadi dan jiwa jika kita mau untuk memahaminya. Itulah mengapa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, emakin banyak ilmu yang didapat, semakin ia menghargai hidupnya dengan sejuta pemahaman bahwa hidup yang telah dianugrahkan oleh Sang Maha Pemberi Hidup bukanlah untuk dibuat sekedar bersenang-senang berkutat dengan si hedon. Tapi lebih pada bagaimana kita memanfaatkan hidup yang kita punya dengan mengisinya dengan ilmu. Sebagaimana hakikat tujuan hidup manusia yang “khoirunnas anfa’um linnas”, berguna bagi manusia lainnya. Dan untuk menjadi bermanfaat itu, kita harus punya sesuatu yang dapat memberikan manfaat. Ilmu adalah hal yang kiranya dapat sangat bermanfaat untuk di-share-kan. Karena dengan memberi sejatinya kita telah menerima. Sedang posisi penerima, masih belum bisa dibilang telah memberi
                Hidup ini terlalu berharga untuk dibuang percuma dengan berleha-leha dan mengeluh tentang kesulitan, tantangan, rintangan ataupun permasalahan lain yang seharusnya segala permasalaha tersebut dapat menjadi media atau alat untuk kita menjadikan hidup kita jauh lebih bermafaat. Karena masalah adalah cikal bakal ilmu. Ilmu adalah makanan jiwa untuk menemukan jati diri.  (Ls)

Komentar