KRISTAL DAN KELARUTAN
1.
Kristal
Kristal atau hablur adalah suatu padatan atom, molekul, atau ion penyusunnya terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara
tiga dimensi.
Kristal
bismut
·
Studi ilmiah kristal dan pembentukannya.
·
Konsep kistalografi, adalah cabang ilmu
pengetahuan mineralogi yang mempelajari secara sistimatik dan praktis khususnya
tentang bentuk struktur intenal Kristal, ikatan unsur kimia anorganik pembentuk
kisi-kistal (“ crystal lattice”).
·
Mempelajari secara sistimatik dan praktis
khususnya tentang bentukan wujud struktur eksternal Kristal morfologi suatu mineral
berupa benda padat homogen, dapat sebagai benda endapan bahan galian yang
terjadi dan terdapat secara alami pada kondisi tekanan,temperature dan pada
posisi kedalaman tertentu di kerak bumi dan di permukan bumi.
3.
Kristalin
Zat padat yang
susunan atomnya teratur dan berulang dalam
ruang tiga dimensi, sehingga membentuk suatu struktur
4. Amorf
Zat padat yang susunan atomnya tidak teratur (lebih mudah cepat larut dalam
air dari pada kristalin karena ikatan antar molekulnya tidak kuat)
5.
Semi Kristalin
Zat padat yang tersusun dari Kristalin
dan Amorf (contoh : avicell, paravin, selilose mikrokristalin)
6.
Habit Kristal
Kristal yang mana bentuk eksternalnya berbeda sedangkan
bentuk internalnya sama, biasanya terjadi karena adanya kejenuhan dari suatu
larutan/rekristalisasi.
7.
Polimorf
Senyawa organik yang memiliki bentuk Kristal dan energi
yang berlainan.
8.
Alotropi
·
Atau alotropisme adalah perilaku yang
diperlihatkan oleh beberapa unsur kimia yang dapat ditemukan dalam dua bentuk
atau lebih. Dikenal sebagai allotrop unsur tersebut. Pada tiap alotrop, atom-atom unsur tersebut terikat dalam bentuk yang berbeda-beda.
·
Alotrop adalah modifikasi struktural yang
berbeda-beda dari sebuah unsur. Sebagai contoh unsur karbon memiliki dua alotrop umum: intan, yang terdiri atas atom karbon yang terikat bersama-sama dalam susunan
kisi tetrahedral. Dan grafit, yang terdiri atas atom karbon yang
terikat dalam lembaran-lembaran kisi heksagonal.
9.
Monotropi
Modifikasi polimorf yang terjadi secara irreversible
yang berlangsung satu arah dari bentuk metastabil kebentuk stabil.
10.
Enantiotrop
Perubahan terjadi secara reversible pada tekanan
dan suhu tertentu.
11.Pseudopolimorf / polimorf semu
Suatu senyawa hidrad atau solvate yang membentuk
struktur Kristal pada saat rekristalisasi.
12. Kristal Real / polikristalin
Polikristalin yang tidak sempurna disebabkan kacacatan
atau defek dari Kristal.
13. Kristal ideal
Kristal tunggal yang sempurna tanpa cacat pada penempatan
kisi-kisi kristalnya.
14.
Kristal Hidrat
Senyawa kristal padat yang
mengandung air kristal (H2O).
15. Kristal Solvat
Obat yang bergabung dengan molekul pelarut untuk menambah
bentuk Kristal.
16.
Kristal simetri
Suatu Kristal
yang memiliki titik yang identik pada sisi yang berseberangan pada permukaan
Kristal. dikenal 4 kedudukan posisi
simetri, yaitu sebagai berikut :
a). Simetri bidang cermin, bahwa kedudukan suatu Kristal dibelah dua
menunjukkan morfologi sama bentuk berpasangan posisi bidang titik maupun ukuran
sudut bidangnya ,seperti cermin (“symmetry plane”)
b). Simetri sumbu putar , (“symmetry line center”) yang menggambarkan
bahwa kedudukan posisi sama bentuk bidang-titik-sudut bidang yang berpasangan
nampak berulang bila sumbu c Kristal diputar 180 (2-fold symmetry) ;
diputar 120 (3-fold symmetry,trigonal) ; diputar 90 (4-fold
symmetry,tetragonal); dan diputar 60 (6-fold symmetry hexagonal).
c). Simetri titik pusat, (“symmetry point senter”)yang
menggambarkan bahwa kedudukan posisi simetri sama bentuk nampak pada jarak yang
sama melalui titik pusat Kristal, posisi simetri ini disebut juga “inversion”
(posisi silang).
d). Simetri sumbu pusat putar
inverasi/ silang(“symmetry
axis of rotary inversion”),yang menggambarkan bahwa kedudukan posisi
simetri sama betuk melalui sumbu putar inverse.
17.
kisi kristal bravais
“Bravais space
lattice” (kisi ruang
Kristal Bravais) adalah bentuk geometri 3 dimensi yang struktur internal Kristalnya tersusun oleh unit-cell dari ikatan struktur
atom unsur kimia tersebut.
Bentuk kisi
ruang ruang Kristal bravais mempunyai variasi posisi unit cell yang ditentukan
berdasarkan keberadaan titik-titik kisi bidang Kristal. Dikenal yaitu 4 variasi
posisi titik Kristal (“lattice points”) yaitu:
- titik kisi
Kristal pada ujung bidang disebut titik sisi kristal primitive, bersimbol P.
- titik kisi
Kristal pada bagian tengah bidang kisi Kristal disebut “face center”, simbol F.
- titik kisi
Kristal pada bagian tengah ruang Kristal disebut “body center”, simbol I.
- titik kisi
Kristal pada bagian tengah sebagian bidang kisi Kristal disebut “center”, simbol C.
18.
struktur internal Kristal
·
Isometrik
yaitu jarak antara titik kisi Kristal adalah sama, kisi
Kristal membentuk sudut orthogonal ; mempunyai 3 variable posisi titik kisi
Kristal, yaitu simbol P , I , dan F, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a=b=c.
·
Heksagonal
a. yaitu jarak antar titik Kristal
pada bidang horizontal adalah sama, namun tidak sama dengan jarak titik Kristal
pada bidang Vertikal, horizontal kisi Kristal membentuk sudut ortogonal,
sedangkan antar 6 bidang tegak membentuk posisi sudut 120.
b. Mempunyai 2 variabel posisi titik
Kristal,yaitu bersimbol C , P, dengan unsure-unsur Kristal yaitu a=b#c; , .
·
Rhombohedral
a. yaitu jarak antar titik kisi
Kristal adalah sama,memiliki sudut potong antar bidang kisi Kristal membentuk
sudut non-ortogonal.
b. Mempunyai 1 variabel posisi titik
kisi Kristal, yaitu bersimbol P, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a=b=c ; .
·
Tetragonal
a. yaitu jarak titik kisi Kristal
pada bidang horizontal adalah sama , namun tidak sama dengan jarak titik kisi
Kristal pada posisi vertical, dan membentuk sudut ortogonal.
b. Mempunyai 2 variabel posisi titik
kisi Kristal,yaitu P dan I, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a=b#c ; .
·
Orthoromblik
a. Jarak antar kisi Kristal adalah
tidak sama, dengan sudut potong antar bidang kisi Kristal membentuk sudut
ortogonal.
b. Mempunyai 4 variabel posisi titik
kisi Kristal, yaitu bersimbol P , C ,I dan F, dengan unsur-unsur Kristal yaitu
a#b#c ; .
·
Monoklin
Dicirikan bahwa jarak antar titik
kisi Kristal adalah tidak sama, dengan posisi 2 sudut potong antar bidang kisi
Kristal membentuk sudut ortogonal, sedangkan 1 (satu) sudut bidang kisi
Kristal, yaitu bersimbol P dan C, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a#b#c ; .
·
Triklin
Jarak antara titik kisi Kristal adalah tidak
sama.
Sistem
|
Sumbu (axes)
|
Sudut sumbu (axial angles)
|
Kubik
|
a =
b = c
|
a =
b = g = 900
|
Tetragonal
|
a =
b ¹ c
|
a =
b = g = 900
|
Ortorombik
|
a ¹
b ¹ c
|
a =
b = g = 900
|
Monoklinik
|
a ¹
b ¹ c
|
a -
g - 900 ¹ b
|
Triklinik
|
a ¹
b ¹ c
|
a ¹
b ¹ g = 900
|
Hexagonal
|
a =
a ¹ c
|
a =
b = 900 ; g = 1200
|
Rombohedral
|
a =
b = c
|
a =
b = g ¹ 900
|
19.
Eksternal Kristal
·
Suatu bentuk kubus dari sisitem internal
isometrik kisi Kristal, dapat tumbuh beraturan menjadi lima macam bentuk bentuk
eksternal Kristal, yaitu menjadi bentuk kubus hexahedron, tabular,
prisma-batang, octahedron dan rombik-dodecahedron.
·
Adapun berkaitan dengan konsep dasar struktur
internal Kristal Bravais Spance Lattice, maka dikenal bentukan geometri tiga
dimensi enam jenis sisitem eksternal Kristal mineral, yaitu isometrik,
heksagonal,tetragonal orthorombik, monoklin dan triklin.
·
Suatu morfologi eksternal Kristal mempunyai
ciri bentuk tertentu yaitu “open forms” dan “closed form”. “Open forms” (bentuk terbuka) adalah
dicirikan bentuk prisma dan piramida sedangkan “closed form” (bentuk
tertutup) yaitu dicirikan bentukan piramida, trapezohedran dan scalenohedran
20. KONSTANTA KISI
Jarak yang selalu
terulang dalam pola jangkau kristal yang menentukan sel satuan dalam
kristal. Untuk sistem kubik konstanta kisinya adalah a, sedangkan untuk
sistem tetragonal konstanta kisinya adalah a, b, dan c.
21. BIDANG KRISTAL
Bidang-bidang atom dalam suatu kisi kristal.
Arah (tegak lurus) bidang kristal
disebut sebagai arah kristal.
22.
Indeks Miller
Indeks Miller adalah kebalikan dari
perpotongan suatu bidang dengan ke-tiga sumbu x, y dan z yang dinyatakan
dalam bilangan utuh bukan pecahan. Indeks miller yang
biasanya bertanda negative (-) berarti menunjukkan bidang pada arah tertentu,
(misalnya perpotongan tsb ada di + ½, + ½ dan – 1/3 maka
receprocalnya 2, 1, dan –3).
a.
Untuk arah bidang digunakan simbol atau lambang [ h, k, l ]
Contoh : [
1, 1, 1 ]
b.
Untuk bidang kristal digunakan lambang ( h, k, l )
Contoh : ( 1, 1, 1 )
Langkah mudah
untuk memberikan indeks miller dari suatu bidang irisan adalah sebagai berikut:
1. Ambil titik asal (titik 0) dari bidang
2. Tentukan nilai intersep dari setiap aksis (1/h)a, (1/k)b, (1/l)c dari titik asal, contoh jika intersep adalah (1/2)a, (1/3)b, (1/1)c, maka indeks bidang tersebut adalah (2 3 1) seperti gambar dibawah ini.
3. Jika intersep ∞ atau bidang paralel dengan aksis maka indeksnya bernilai nol.
1. Ambil titik asal (titik 0) dari bidang
2. Tentukan nilai intersep dari setiap aksis (1/h)a, (1/k)b, (1/l)c dari titik asal, contoh jika intersep adalah (1/2)a, (1/3)b, (1/1)c, maka indeks bidang tersebut adalah (2 3 1) seperti gambar dibawah ini.
3. Jika intersep ∞ atau bidang paralel dengan aksis maka indeksnya bernilai nol.

Arti fisis
dari Miller indeks adalah indeks ini menyatakan:
1. Orientasi dari bidang atomik melalui harga h, k dan l
2. Jarak antar bidang, yaitu jarank antara bidang yang melewati titik asal dengan bidang berikutnya.
Perbedaan jarak dari dua bidang dicontohkan dengan gamabr dibawah ini, bidang (2 2 2) memiliki jarak antar bidang yang lebih kecil dari bidang (1 1 1).
1. Orientasi dari bidang atomik melalui harga h, k dan l
2. Jarak antar bidang, yaitu jarank antara bidang yang melewati titik asal dengan bidang berikutnya.
Perbedaan jarak dari dua bidang dicontohkan dengan gamabr dibawah ini, bidang (2 2 2) memiliki jarak antar bidang yang lebih kecil dari bidang (1 1 1).

Jarak dari
satu set bidang (hkl)) adalah jarak terpendek dari dua bidang yang berdekatan.
Jarak merupakan fungsi dari (hkl), yang secara umum semakin besar harga indeks
maka semakin kecil jarak antar bidang tersebut. Untuk latis berbentuk kubik,
rumus dari jarak antar bidang hkl (dhkl):
1. Mengapa
fenomena kelarutan penting untuk rancangan formulasi?
Karena
kelarutan setiap bahan obat tentunya berbeda-beda, ada yang mudah melarut ada
pula yang sukar larut. Menjadi permasalahan ketika bahan obat misal ingin
dibentuk sediaan cair, namun bahan obat tersebut tidak bisa larut. Dalam
keadaan ini diperlukan cara untuk dapat melarutkan bahan obat tersebut, karena
bahan obat untuk dapat mencapai efek terapetik harus terlarut dan terdistribusi
dalam partikel kecil atau halus yang nantinya akan memudahkan absorpsi bahan
aktif obat. Untuk itu dibutuhkan faktor pendukung untuk memudahkan bahan obat
tersebut untuk dilarutkan yang nantinya tujuan akhirnya melahirkan rancangan
formulasi obat hingga terbentuk sediaan obat.
Diantaranya
yang dapat mempengaruhi kelarutan adalah
:
1.
Interaksi solut dan solven
2.
pH
3.
Tekanan
4.
Suhu
5.
Pengaruh bentuk dan ukuran partikel
6.
Pengaruh konstanta dielektrik
Sehingga sangat penting untuk mengetahui fenomena kelarutan suatu bahan
obat untuk menentukan rancangan formulasi obat dalam hal ini untuk mencapai
maksimum pencapaian efek farmakologisnya.
2. Apa
yang menjadi hambatan pada pembuatan sediaan larutan farmasetika?
Beberapa hambatan dalam pembuatan
sediaan larutan farmasetika adalah salah satunya adanya interaksi antar molekul
bahan obat yang memiliki perbedaan sifat secara fisika dan kimia.
Sifat
fisika misalnya kadar kelarutan yang berbeda pada suhu tertentu. Sedangkan
sifat kimia misalnya sifat kelarutan
antara bahan obat dengan bahan obat yang lainnya atau bahan obat dengan pelarut
dimana bahan obat yang bersifat polar akan mudah larut dalam bahan obat dan
pelarut yang bersifat polar. Sedangkan bahan obat non polar juga akan mudah
berinteraksi dengan bahan obat lain atau pelarut yang memiliki sifat non polar.
Selain itu adanya kombinasi bahan obat yang memiliki kinerja sinergis dan
antagonis sehingga dibutuhkan ilmu pengetahuan untuk memilih bahan-bahan obat
untuk sediaan farmasetika dengan melihat sifat daripada bahan-bahan obat
tersebut.
3. Bagaimana
dengan istilah kelarutan “like dissolve like”?
“Like dissolve like” yaitu suatu zat akan terlarut
sempurna di dalam pelarutnya jika keduanya memiliki kepolaran yang sama untuk
memprediksi kelarutan.
4. Bagaimana
cara meningkatkan kelarutan obat dalam air?
Cara Meningkatkan Kelarutan
1.
Pembentukan Kompleks
Gaya antar molekuler yang terlibat dalam pembentukan kompleks adalah gaya van der waals dari dispersi, dipolar dan tipe dipolar diinduksi. Ikatan hidrogen memberikan gaya yang bermakna dalam beberapa kompleks molekuler dan kovalen koordinat penting dalam beberapa kompleks logam.
Gaya antar molekuler yang terlibat dalam pembentukan kompleks adalah gaya van der waals dari dispersi, dipolar dan tipe dipolar diinduksi. Ikatan hidrogen memberikan gaya yang bermakna dalam beberapa kompleks molekuler dan kovalen koordinat penting dalam beberapa kompleks logam.
Salah satu faktor yang penting dalam
pembentukan kompleks molekuler adalah persyaratan ruang. Jika pendekatan dan
asosiasi yang dekat dari molekul donor dan molekul akseptor dihalangi oleh
faktor ruang, kompleks akan atau mungkin berbentuk ikatan hidrogen dan pengaruh
lain harus dipertimbangkan.
Polietilen glikol, polistirena,
karboksimetil-selulosa dan polimer sejenis yang mengandung oksigen nukleofilik
dapat berbentuk kompleks dengan berbagai obat. Semakin stabil kompleks organik
molekuler yang terbentuk, makin besar reservoir obat yang tersedia untuk
pelepasan. Suatu kompleks yang stabil menghasilkan laju pelepasan awal yang
lambat dan membutuhkan waktu yang lama untuk pelepasan sempurna.
Cara ini membuat pentingnya pembuatan kompleks molekuler. Dibawah kompleks ini diartikan senyawa yang antara lain terbentuk melalui jembatan hidrogen atau gaya dipol-dipol, juga melalui antar aksi hidrofob antar bahan obat yang berlainan seperti juga bahan obat dan bahan pembantu yang dipilih.
Cara ini membuat pentingnya pembuatan kompleks molekuler. Dibawah kompleks ini diartikan senyawa yang antara lain terbentuk melalui jembatan hidrogen atau gaya dipol-dipol, juga melalui antar aksi hidrofob antar bahan obat yang berlainan seperti juga bahan obat dan bahan pembantu yang dipilih.
Pembentukan kompleks sering dikaitkan
dengan suatu perubahan sifat yang lebih
penting dari bahan obat, seperti ketetapan dan daya resorbsinya, sehingga dalam
setiap kasus diperlukan suatu pengujian yang cermat dan cocok.
Pembentukan kompleks sekarang banyak
dijumpai penggunaannya untuk perbaikan kelarutan, akan tetapi dalam kasus lain
juga dapat menyebabkan suatu perlambatan kelarutan.
2.
Penambahan Kosolven
Kosolven adalah pelarut yang ditambahkan dalam suatu sistem untuk membantu melarutkan atau meningkatkan stabilitas dari suatu zat, cara ini disebut kosolvensi. Cara ini cukup potensial dan sederhana dibanding beberapa cara lain yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu bahan. Penggunaan kosolven dapat mempengaruhi polaritas sistem, yang dapat ditunjukkan dengan pengubahan tetapan dielektrikanya.
Kosolven seperti etanol, propilen glikol, polietilen glikol dan glikofural telah rutin digunakan sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam larutan pembawa berair. Pada beberapa kasus, penggunaan kosolven yang tepat dapat meningkatkan kelarutan obat hingga beberapa kali lipat, namun bisa juga peningkatan kelarutannya sangat kecil, bahkan dalam beberapa kasus penggunaan kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam larutan berair. Efek peningkatan kelarutan terutama disebabkan oleh polaritas obat terhadap solven (air) dan kosolven. Pemilihan sistem kosolven yang tepat dapat menjamin kelarutan semua komponen dalam formulasi dan meminimalkan resiko pengendapan karena pendinginan atau pengenceran oleh cairan darah. Akibatnya, hal ini akan mengurangi iritasi jaringan pada tempat administrasi obat.
Kosolven adalah pelarut yang ditambahkan dalam suatu sistem untuk membantu melarutkan atau meningkatkan stabilitas dari suatu zat, cara ini disebut kosolvensi. Cara ini cukup potensial dan sederhana dibanding beberapa cara lain yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu bahan. Penggunaan kosolven dapat mempengaruhi polaritas sistem, yang dapat ditunjukkan dengan pengubahan tetapan dielektrikanya.
Kosolven seperti etanol, propilen glikol, polietilen glikol dan glikofural telah rutin digunakan sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam larutan pembawa berair. Pada beberapa kasus, penggunaan kosolven yang tepat dapat meningkatkan kelarutan obat hingga beberapa kali lipat, namun bisa juga peningkatan kelarutannya sangat kecil, bahkan dalam beberapa kasus penggunaan kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam larutan berair. Efek peningkatan kelarutan terutama disebabkan oleh polaritas obat terhadap solven (air) dan kosolven. Pemilihan sistem kosolven yang tepat dapat menjamin kelarutan semua komponen dalam formulasi dan meminimalkan resiko pengendapan karena pendinginan atau pengenceran oleh cairan darah. Akibatnya, hal ini akan mengurangi iritasi jaringan pada tempat administrasi obat.
3.
Penambahan Surfaktan
Surfaktan atau zat aktif permukaan adalah molekul yang struktur kimianya terdiri dari dua bagian dan mempunyai perbedaan afinitas terhadap berbagai pelarut yaitu bagian hidrofobik dan hidrofilik. Bagian hidrofobik terdiri dari rantai panjang hidrokarbon terhalogenasi atau teroksigenasi, bagian ini mempunyai afinitas terhadap minyak atau pelarut non polar, sedangkan bagian hidrofilik dapat berupa ion, gugus polar, atau gugus-gugus yang larut dalam air. Oleh karena itu surfaktan seringkali disebut ampifil karena mempunyai afinitas tertentu baik terhadap pelarut polar maupun non polar. Surfaktan secara dominan terhadap hidrofilik, hidrofobik atau berada di antara minyak air.
Surfaktan atau zat aktif permukaan adalah molekul yang struktur kimianya terdiri dari dua bagian dan mempunyai perbedaan afinitas terhadap berbagai pelarut yaitu bagian hidrofobik dan hidrofilik. Bagian hidrofobik terdiri dari rantai panjang hidrokarbon terhalogenasi atau teroksigenasi, bagian ini mempunyai afinitas terhadap minyak atau pelarut non polar, sedangkan bagian hidrofilik dapat berupa ion, gugus polar, atau gugus-gugus yang larut dalam air. Oleh karena itu surfaktan seringkali disebut ampifil karena mempunyai afinitas tertentu baik terhadap pelarut polar maupun non polar. Surfaktan secara dominan terhadap hidrofilik, hidrofobik atau berada di antara minyak air.
Ampifilik
merupakan sifat dari surfaktan yang menyebabkan zat terabsorpsi pada antarmuka,
apakah cair/gas, atau cair/cair.
Agar surfaktan terpusat pada antarmuka,
harus diimbangi dengan jumlah gugus-gugus yang larut air dan minyak. Bila
molekul terlalu hidrofilik atau hidrofobik maka tidak akan memberikan efek pada
antarmuka. Adsorpsi molekul surfaktan di permukaan cairan akan menurunkan tegangan
permukaan dan adsorpsi di antara cairan akan menurunkan tegangan antarmuka.
Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul membentuk agregat yang disebut misel. Selain itu pada pemakaiannya dengan kadar tinggi sampai Critical Micelle Concentration (CMC) surfaktan diasumsikan mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu selanjutnya dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran tempat absorbsi obat karena surfaktan dan membran mengandung komponen penyusun yang sama. Sifat terpenting misel adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat-zat yang biasanya sukar larut atau sedikit larut dalam pelarut yang digunakan. Proses ini disebut solubilisasi yang terbentuk antara molekul zat yang larut berasosiasi dengan misel surfaktan membentuk larutan yang jernih dan stabil secara termodinamika.
Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang harus diberikan sejajar dengan permukaan cairan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Tegangan antarmuka adalah gaya persatuan panjang yang terdapat antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur, dan seperti tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm. Tegangan antarmuka selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan karena gaya adhesif antar dua fase cair yang membentuk suatu antarmuka adalah lebih besar daripada bila suatu fase cair dan suatu fase gas berada bersama-sama. Apabila dua cairan bercampur dengan sempurna, tidak ada tegangan antarmuka yang terjadi. Surfaktan terbagi menjadi :
a. surfaktan Anionik
Surfaktan yang larut dalam air dan berionisasi menjadi ion negatif dan ion positif. Ion negatif bertindak sebagai surfaktan misalnya Natrium lauril sulfat.
b. Surfaktan Kationik
Surfaktan yang larut dalam air, berionisasi menjadi ion negatif dan ion positif. Ion postif bertindak sebagai surfaktan, misalnya N-setil n-etil morfolium etosulfat.
c. Surfaktan Amfoter
Surfaktan yang molekulnya bersifat amfoter, misalnya : Asil aminopropiona, Imidazolinum betaine.
d. Surfaktan Nonionik
Surfaktan non ionik adalah surfaktan yang larut dalam air tetapi tidak berionisasi, misalnya : tween dan span.
Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul membentuk agregat yang disebut misel. Selain itu pada pemakaiannya dengan kadar tinggi sampai Critical Micelle Concentration (CMC) surfaktan diasumsikan mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu selanjutnya dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran tempat absorbsi obat karena surfaktan dan membran mengandung komponen penyusun yang sama. Sifat terpenting misel adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat-zat yang biasanya sukar larut atau sedikit larut dalam pelarut yang digunakan. Proses ini disebut solubilisasi yang terbentuk antara molekul zat yang larut berasosiasi dengan misel surfaktan membentuk larutan yang jernih dan stabil secara termodinamika.
Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang harus diberikan sejajar dengan permukaan cairan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Tegangan antarmuka adalah gaya persatuan panjang yang terdapat antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur, dan seperti tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm. Tegangan antarmuka selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan karena gaya adhesif antar dua fase cair yang membentuk suatu antarmuka adalah lebih besar daripada bila suatu fase cair dan suatu fase gas berada bersama-sama. Apabila dua cairan bercampur dengan sempurna, tidak ada tegangan antarmuka yang terjadi. Surfaktan terbagi menjadi :
a. surfaktan Anionik
Surfaktan yang larut dalam air dan berionisasi menjadi ion negatif dan ion positif. Ion negatif bertindak sebagai surfaktan misalnya Natrium lauril sulfat.
b. Surfaktan Kationik
Surfaktan yang larut dalam air, berionisasi menjadi ion negatif dan ion positif. Ion postif bertindak sebagai surfaktan, misalnya N-setil n-etil morfolium etosulfat.
c. Surfaktan Amfoter
Surfaktan yang molekulnya bersifat amfoter, misalnya : Asil aminopropiona, Imidazolinum betaine.
d. Surfaktan Nonionik
Surfaktan non ionik adalah surfaktan yang larut dalam air tetapi tidak berionisasi, misalnya : tween dan span.
5. Bagaimana
pengaruh pH terhadap distribusi (partisi) molekul obat (preserfatif) dalam
sistem emulsi atau solubilisasi misel?
Zat organik yang bersifat asam lemah,
dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Kelarutan asam-asam
organik lemah seperti barbiturat dan sulfonamida dalam air akan bertambah
dengan naiknya pH karena terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan
basa-basa organik lemah seperti alkoholida dan anastetika lokal pada umumnya
sukar larut dalam air.
Bila pH larutan diturunkan dengan
penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Jadi pada pH asam, distribusi obat akan merata apabila molekul obat juga bersifat asam, sedangkan apabila molekul obat bersifat basa, molekul akan mengendap dan tidak terdistribusi merata. Pada pH basa, distribusi obat akan merata apabila molekul obat bersifat basa, sedangkan molekut yang bersifat asam akan mengendap dan tidak terdistribusi secara merata.
penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Jadi pada pH asam, distribusi obat akan merata apabila molekul obat juga bersifat asam, sedangkan apabila molekul obat bersifat basa, molekul akan mengendap dan tidak terdistribusi merata. Pada pH basa, distribusi obat akan merata apabila molekul obat bersifat basa, sedangkan molekut yang bersifat asam akan mengendap dan tidak terdistribusi secara merata.
6. Apa
itu tetapan dielektrik?
Tetapan dielektrik suatu campuran
pelarut merupakan hasil penjumlahan dari tetapan dielektrik masing-masing yang
sudah dikalikan dengan % volume masing-masing komponen pelarut. Adakalanya
suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut
tunggalny. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency dan pelarut yang
mana dalam bentuk campuran dapat menaikkan kelarutan suatu zat disebut
co-solvent. Etanol, gliserin dan propilen glikol adalah co-solvent yang umum
digunakan dalam bidang farmasi untuk pembuatan eliksir.
Kenaikan konstanta elektrik mengakibatkan menurunnya konstanta laju
reaksi untuk reaksi antar ion yang berlawanan. Sedang bagi ion yang uatannya
sama, terjadi sebaliknya. Yaitu konstanta elektrik menurun, sedang konstanta
laju reaksi meningkat.
7. Jelaskan
mekanisme larutnya solut dalam solven campuran!
Menurut
Langmuir proses kelarutan ada tiga tahap:
1. Pelepasan molekul dari fase solut
pada suhu tertentu
2. Pembentukan rongga dalam solven
yang cukup besar untuk menerima molekul solut
3. Akomodasi molekul solut dalam
rongga solven
8. Jelaskan
mekanisme ikatan hidrogen larut dalam air!
H H
9. Apa
itu intermediet solven?
Intermediet solven merupakan suatu
pelarut semi polar yang berfungsi untuk meningkatkan interaksi gugus solut non
polar dalam pelarut polar dengan cara menginduksi senyawa non polar dengan
derajat kebebasan polaritas tertentu.
Sumber
:
id.wikipedia.org/wiki/
file.upi.edu/Direktori/.../JUR.../1.Struktur_Kristal_(hand_out).pdf
http://erlian-ff07.web.unair.ac.id/artikel_detail-45742-a.%20Semester%206%20:%20Fisika%20Farmasi-RANGKUMAN%20FISFAR.html
nie.edu.sg
repository.ipb.ac.id/bitsream/hand

Assalamualaikum, maaf sebelumnya terimakasih atas postingan ini sangat membantu tugas saya. Apakah kak lisa, punya ppt lengkap tentang zat padat dan kelarutan pada mata kuliah farmasi fisik? Kalau punya, apa boleh saya minta ppt tersebut? Terima kasih, maaf merepotkan, wasalamualaikum.
BalasHapusAssalamualaikum, maaf sebelumnya terimakasih atas postingan ini sangat membantu tugas saya. Apakah kak lisa, punya ppt lengkap tentang zat padat dan kelarutan pada mata kuliah farmasi fisik? Kalau punya, apa boleh saya minta ppt tersebut? Terima kasih, maaf merepotkan, wasalamualaikum.
BalasHapuswa'alaikum salam. maaf baru bales. iya saya punya, hanya dalam 2 minggu ini laptop sya sedang rusak. hehe
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus