KISAH PILU SELEMBAR UANG RATUSAN




Menurutmu uang seratus ribu itu banyak atau tidak ?
          Jawabnya, sedikit bagi orang yang kebanyakan uang. Banyak bagi orang yang tidak punya uang. Sedang bagiku saat ini ? bisa iya bisa tidak…
          Kenapa begitu ?
          Jawabnya, mari simak cerita bodohku. Yang menjadikanku terpaku dalam kebodohanku sendiri saat aku begitu saja melepas uang seratus ribu itu tanpa perlawanan.
          Kala itu tertanggal 02 maret 2013 sekitar jam dua belas-an. Sehabis kuliah kimia organik II, segera aku bersiap menuju Student Center (SC), menghadiri acara pelantikan dan sidang paripurna CSS MoRA UA periode 2013-2014. Untuk menuju ke SC, harus aku mencari len sebagai sarana transportasiku. Menunggu tak seberapa lama, terlihatlah len sasaranku, T2.
          Kufikir akan berjalan normal seperti biasanya, tinggal menunggu len berhenti dihadapanku, naik, otw menuju SC, berkumpul dengan Kassandeniards,  mengikuti sidang paripurna penetapan AD/ART dan GBHO CSS MoRA UA, pulang lalu beristirahat. Tapi itu hanya melintas dalam bersitan sirat saja. Kenyataannya lebih kejam dari sekedar itu.
          Len T2 sudah terlihat mendekat, tapi tiba-tiba seorang bapak paruh baya berhenti tepat dihadapaku. “ Mau ke kampus C ya ?”, “ dari pada nyalin len, ayo ikut saya saja. saya satpam UNAIR. Tadi dari kampus B mengantar barang”
          Tanpa fikir panjang langsung saja aku naik kesepeda motornya. “Alhamdulillah, lumayan menghemat uang tiga ribu”, fikirku. Sepanjang perjalanan si bapak mengajakku ngobrol, salah satunya tentang Nita yang entah siapa itu tak ku kenal. Sampai setengah jalan, si bapak bilang ingin mengambil uang dulu, memang waktu itu kami melewati atm. Aku diturunkan di sebuah halte, sedang si bapak pamit ke atm dulu yang sedikit terlewat. Tak seberapa lama, si bapak kembali lagi. Menanyakan padaku apa aku punya uang puluhan, dia mau menukarnya dengan selembar lima puluh ribuannya. “ Saya ga’ punya, pak. Cuma dua puluh”
          “ Kalau seratus ?”
          “Ohw, bapak mau tukar lima puluhan dengan seratus ribuan ?
          “Iya kalau ada”
          “Ada, pak”
          Si bapak menjulurkan selembar lima puluh ribuan, akupun turut memberikan selembar ratusan ribu. Saat aku hendak mengambil yang selembar lima puluh ribuan itu. Si bapak tetap memegangnya erat. Akupun tak menyerahkan uangku.
          “Sya pinjam dulu, ba’. Nanti saya kembalikan. Saya ada kepentingan”
          Aku hanya menatap si bapak, tak mengeluarkan jawaban. “Saya ndak bohong, ba’. Nanti saya kembalikan. Demi Allah”
          Kata sumpahnya membuatku menyerahkan uangku. Si bapak dengan helm orange dan sepeda tuanya kemudian menghilang dari hadapanku. Sedang aku masih bersabar hati menunggu, berharap tak tertipu. Mengandalkan sumpah itu untuk meyakinkan diri bahwa si bapak yang mengaku bernama Pak Yudi itu tak menipuku.
          Sekian lama menunggu, si bapak tak kunjung muncul. Aku memutuskan berjalan kearah atm itu. Namun sial, saat melewati atm itu, tak terlihat si bapak maupun sepeda tua dan helm orangenya. Dan teruslah aku berjalan menuju tempat tadi menunggu len.
          Dalam benakku, setengah tak percaya aku telah tertipu. Apa yang ada dalam fikiranku ? Begitu saja percaya pada orang yang baru aku temui. Penampilannya yang seperti itu, setelah ku fikir sama sekali tak seperti satpam UNAIR. AKU TERTIPU……
          Lagi pula, perilaku si bapak cukup mencurigakan kan ? awalnya hendak menukar uang puluhan dengan lima puluh ribu, kenapa tiba-tiba berpindak ke seratus ribu ?
          Bagai mata uang dua sisi, fikiranku berperang dengan dua sudut pandangnya. Satu sisi merasa rugi. Uang seratus ribu itu nominal yag cukup banyak. Seandainya aku berikan pada ibuku, pasti sangat bahagia sekali. Mengingat finansial keluarga yang sehari jarang sekali mendapat dua puluh ribu, apa lagi seratus ribu. Pasti nominal itu sangat berharga. Bahkan teringat saat living cost dua bulan tak kunjung turun, kemana-mana aku mencari pinjaman dengan memasang wajah besi, menahan malu. Seratus ribu itu cukup untuk makan 66 kali di warung Bu Siti dengan harga tiga ribu yang biasa aku beli. Uang seratus ribu itu cukup membeli setidaknya dua potong baju. Uang seratus ribu itu……. Benar-benar hufh pake T……
          Di sisi lain, batinku bersuara. Mengingat kembali kejadian memalukan saat aku naik len tak bayar. Berniat meminjam pada teman yang kala itu satu  len, tapi ternyata dia juga tidak punya uang. Batinku bergumam, seandainya dosa tak bayar len itu bisa digantikan dengan selembar uang tadi, aku rela. Toh juga selama ini uang yang aku pegang, yang aku nikmati, yang aku gunakan, bukan murni uangku. Dalam uang yang tiap bulannya aku dapat itu, ada hak orang lain. Living cost itu untukku, bukan milikku. Sehingga saat uang itu hilang, tak perlu merasa sedih, karena aku tidak kehilangan milikku. Toh juga segala yang ada padaku hanya lontaran amanah dari Sang Maha Pemberi. Jadi, saat menghilang dariku, anggap saja telah kembali pada Sang Maha Pemilik. Tak perlu sedih, tak perlu ditangisi, tak perlu merasa kehilangan.
          Tapi diluar peperangan fikir dan batin itu, hanya satu sesalku. Mengapa aku seperi orang bodoh yang membiarkan begitu saja selembar ratusan ribu  lolos dari genggamanku.
          Sudahlah, semoga di tangan si bapak berhelm orange, uang itu digunakan lebih bermanfaat di banding bila di tanganku.
          Pengalaman ini…….
          Teguran dan pembelajaran bagiku. Belajar untuk merelakan, belajar mengikhlaskan. Belajar berfikir positif, di banding mendongkolkan hati dengan memilih berprasangka buruk.
          Dilain hal, mulai sekarang harus lebih berhati-hati memberi kepercayaan pada orang yang tak dikenal. Tak sembarang memaklumi kecerobohan.
          Semoga kejadian ini,tak berulang pada orang lain di belahan lain bumi ini. J

Komentar