07 februari, 13.30 tibalah aku
di stasiun gubeng lama. Menunggu kedatangan kereta yang kali ini terlambat 15
menit dari jadwal keberangkatan, 13.50. Selama perjalanan kurang lebih lima jam
kuhabiskan dengan melahap setengah bekal karya pena Pak Menteri BUMN, Dahlan
Iskan, “Ganti Hati”. Sebuah pengalaman
yang luar biasa dari orang yang luar biasa dengan prosesnya yang luar biasa.
Bercerita tentang pengalaman luar biasanya selama proses sebelum dan setelah
transplantasi liver. Seorang yang teramat gigih dan berdedikasi tinggi terhadap
pekerjaan, negara dan orang-orang disekitarnya.
Sampai di Stasiun Kalisat
disambut dengan kumandang adzan isya’. Kakakku menjemput, dan setibanya di
rumah masih dalam keadaan gelap, bukan karena tak berpenghuni, tapi kala itu
tengah terjadi kematian listrik. He hee…. Tapi untunglah tak berapa lama, lampu
kembali menerangi.
Kembali kerumah, satu hal yang
menyadarkan aku bahwa sesederhana ini kehidupanku di sini, di desa Sumber Jeruk
tercinta. Melihat ketegaran ibu, yang lebih tepatnya lagi terlihat nyaman
dengan kegiatannya sehari-hari dengan kemandiriannya. Di usia tuanya yang
mungkin sudah menginjak kepala lima, aku merasa bersalah. Diusiaku yang hampir
menginjak kepala dua, masih saja merepotkan. Masih saja bertega hati melihat
ibuku.
Keinginan ibu untuk memperbaiki rumah begitu
mengagumkan. Ingin menjadikan rumah kami saat ini menjadi dua bagian, untuk
kakakku dan keluarganya dan untuk keluargaku kelak. Pagar bluntas kini sudah
berubah menjadi bata berlapis semen. Yang aku tahu, bata itu diambil dari
sisa-sisa bongkahan saat memperbaiki rumah, batu yang dikumpulkan dari sekitar
rumah, dan pasir yang didapat dari bersabar
hati menghaluskannya dengan palu. “dari pada beli”, begitu kata ibu.
Ibu.
Aku tahu betapa mulia hatimu. Betapa bahagianya aku memiliki seorang ibu yang
hebat seperti dirimu. Ingin rasanya aku memelukmu. Membuatmu tersenyum,
memanjakanmu dengan apa yang kau ingini. Tapi dengan kondisiku saat ini yang
seperti ini masih jauh rasanya. Masih saja bertega hati merepotkanmu. Aku tak
pernah tahu bagaimana perasaamu sebenarnya padaku. Bahagiakah engkau saat aku
pamit menimba ilmu di Surabaya dulu ? bahagiakah engkau saat aku pulang ?
benarkah kau keberatan saat aku pulang sering-sering. Aku tahu, engkau takut
aku tak punya uang jika aku sering-sering pulang.
Ibu.
Saat aku pulang engkau selalu berusaha memasak sayur kesukaanku, meski aku tahu
engkau tak punya uang untuk membelinya. Kau menyembunyikannya dariku bahwa kau
ngutang untuk membeli sayur itu, aku tahu itu, ibu. Aku tahu engkau berusaha
memberikan yang terbaik untukku saat aku pulang. Kau membiarkan aku makan sayur
yang banyak sedang kau sendiri mengaku tak suka. Padahal aku tahu, kau ingin
aku makan lahap.
Ibu.
Melihatmu saat tertidur, menetes air mataku. Memiliki ibu sebaik engkau kadang membutaku serasa menjadi anak durhaka.
Mengapa aku membiarkanmu bekerja sekeras ini di usaiamu yang telah mencapai
bayamu. Kelak, aku berjanji akan menjadi tulang punggungmu. Kelak aku akan
menjadi tanganmu, menjadi kakimu. Tak perlulah kau bekerja sekeras sekarang.
Tak perlulah kau khawatirkan atas apa yang akan terjadi besok, apakah bisa
makan, apakah bisa membeli barang yang diingini, apakah bisa memasak daging
saat perayaan islam atau apalah yang kau inginkan. Aku…. Aku ingin menjadi
tanganmu yang menggantikanmu melakukan semua yang kau ingini. Ini janjiku pada
kebaikan hatimu selama ini, ibu. Ibu terhebat di dunia.
Lisaaa, keren keren kereeen! Ibu kita memang terbaik :")
BalasHapusSemoga beliau selalu mendapatkan naungan kasih sayangNya di dunia maupun di akhirat kelak aamiin
amien ^_^
BalasHapuskadang merasa bersalah ketika aku bersenang'' d sbya, sedang ibu d rumah sendrian dg kesederhanaannya