tarif vs pelayanan = kota vs desa
hijrah ke desa bagiku membawa harapan baru, ingin bertemu keluarga sekaligus silaturrahim dengan laskar NQ. senang namun terkadang terbersit ironi saat perjalanan pulang dari pesantren. tak ada yang menjemput tak lantas menjadikanku anak manja yang merengek-rengek mencari orang untuk mengantar. aku pulang naik angkot. keadaannya sudah dibilang hapir tak layak pakai. mesin yang seperti tua renta, sering mengeluarkan batuk karena tak mampu berjalan lebih cepat dari 40 km/jam. penumpangnya yang sedikit karena penduduk desa kinipun lebih suka berkendara dengan motor. jalanan penuh sesak dengan motor, sedang aku yang sedari tadi menunggu angkutann umum masih saja dibosankan dengan menunggu. baru setelah 30 menit kemudian muncul.
terdapat banyak perbedaan antara angkot di desa dan di kota. salah satunya adalah dari segi fasilitasnya. di kota relatif masuk kategori layak pakai, di desa mesin dan rangka mobilnya saja sudah kakek-kakek tapi masih di paksa berjalan. di kota aku sering tak dapat angkot karena penuh penumpangnya, di desa aku tak dapat angkot karena terlalu lama menunggu. di kota tarif angkot seragam, jauh dekat Rp. 3000,00. di desa tarifnya bisa beragam, antara angkot satu dan yang lainnya beda. bahkan yang lebih sangar lagi, tarifnya lebih mahal angkot desa dari pada angkot kota, padahal jaraknya tak seberapa jauh. angkot desa, fasilitas minim namun harga wah. kota fasilitas relatif bagus, harganya asyk. sesuai dengan kantong mahasiswa. mungkin pula sebab jarang penumpang yang menyebabkan tarif melambung, bahkan untuk jarak sekitar 5 km saja bisa mencapai Rp. 5.500,00 mungkin pula mobilisasi pun turut jadi faktor pendorong. di kota dengan mobilisasi tinggi, gampang mendapat penumpang, gampang pula dapat banyak uang. sedang di desa, apa lagi mayoritas pekerja sawah, jarang penumpag hingga mematok tarif tinggi untuk kejar setoran. tapi apa alasan yang seperti itu pantas untuk dijadikan alasan ?
Komentar
Posting Komentar