Puasakan Perilaku Kita



            Marhaban Ya Ramadhan.
Setahun yang lalu kita berjumpa Ramadhan, Alhamdulillah kita kembali diizinkan merasakannya. Dengan puasa kita bisa merasakan apa itu haus dan lapar seperti yang dirasakan kaum proletar. Bukankah tanpa merasakan haus kita tidak akan mengerti arti kesegaran seteguk air bagi kerongkongan yang kering?, Tanpa merasakan lapar bukankah kita tidak akan faham makna sepiring nasi bagi perut yang kosong ?.  Meskipun pada hakikatnya, makna puasa itu bukan hanya terletak pada haus dan lapar saja. Tetapi juga mengikut sertakan kegiatan batiniah agar mengarah pada hal – hal yang positif, menahan diri mengerjakan hal negatif yang dapat merusak jiwa, seperti iri, hasut, dengki, sombong, marah, rakus dan syahwat.
            Dalam jagad batiniah, manusia mempunyai 2 unsur penting yang bersimbiosis, yaitu hati dan moral. Hati disebut juga mata hati (eyes of heart ) yaitu ruang dalam diri manusia yang dapat mendeteksi hal baik atau buruk. Maka dibulan puasa ini seharusnya kita memotivasi moral kita untuk berbuat kebaikan. Oleh karena itu, jadikanlah puasa sebagai sarana untuk melatih diri untuk mentuhankan Allah dan memanusiakan manusia. Dengan begitu kita berpuasa tidak hanya akan memperoleh lapar dan haus saja, tapi juga makna sesungguhnya yang terkandung dalam puasa.
            Berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan pada dasarnya merupakan sebuah latihan agar kita bisa berpuasa setahun penuh. Maksudnya adalah latihan agar kita memiliki “perilaku orang berpuasa” secara spontanitas.
            Latihan itu adalah latihan menjaga fikiran, perilaku, dan mengendalikan emosi negatif. Ketika latihan itu berhasil, maka kita akan melakukannya secara spontanitas. Pada saat itu kita akan terbiasa. Maka setiap tahunnya kita biasa meningkatkan keberhasilan menaklukkan kenegatifan moral kita.
Bukankah akan terlihat mengagumkan bangsa ini jika semua masyarakatnya memiliki “perilaku orang berpuasa” dalam semangat nasionalisme?Tapi sayangnya kenampakan “perilaku berpuasa”dalam tubuh masyarakat masih belum dominan dalam kesehariannya. Dan yang paling memiriskan lagi adalah tidak adanya perilaku berpuasa dalam diri pemegang tampuk kekuasaan. Kalau seperti itu, apakah kita telah gagal belajar melatih diri?Maka dari itu, kita sebagai generasi muda sepatutnya memulai pembelajaran kita dengan sungguh-sungguh agar nantinya tidak dikatakan sebagai generasi yang gagal. Karena saat ini negeri kita tengah mengidam-idamkan lahirnya pribadi yang memiliki integritas moral tinggi sehingga segala bentuk penyelewengan yang kerap tersaksikan dapat diminimalkan.
                Dengan seperti itu kita bisa menjadi Negara yang berperadapan tinggi karena Negara berperadapan tinggi adalah Negara yang di dalamnya berisi pribadi-pribadi unggul. Jika itu terwujud, berarti kita telah memenuhi amanah para pahlawan yang menitipkan masa depan bangsa ini pada kita generasi muda. Nah, tidak salah kan jika mulai tahun ini kita memaknai kemerdekaan bangsa ini dengan belajar memiliki pribadi orang yang berpuasa…..yuk!.Kita belajar berpuasa setiap tahun! Dalam artian berpuasanya perilaku kita.(LsNQ)


Komentar