sembari membuka mata, sembari tersadar dari kematian akan
hiruk-pikuk dunia malam tadi. betapapun ingin rasanya hati ini terbebas
dari kepentingan dunia. betapapun ingin jiwa ini melakukan totalitas
ketenangan, namun ingin hanya sekedar ingin karena aku dihidupkan untuk
berjihad.
dalam keterasingan mungkin yang terbaik adalah diam dan meraba
keyakinan akan keilahian untuk membentengi diri. aku bukanlah karang yang
selalu berdiri kokoh mencondongkan keangkuhannya, aku bukanlah bintang yang
dengan bangganya memancarkan sinarnya. aku hanya seongkok tulang yang dilapisi
kulit yang berupaya tegar, yang munafik mengaku baik-baik saja di saat hati
seakan goyah dan terkoyak.
akulah yang bersalah, bukan siapapun. hanya aku yang patut
disalahkan......
dalam kebisuan hanya suara lirih yang terdengar meraja di hati.
satu munajat yang terus kucoba menggeliatkan jiwa...."Ya Allah, Ya
Ilahku.....hamba hanya hidup untuk menghamba...."...ketika kata-kata itu
kutiupkan dalam delta kejiwaanku, aku segera tersadar, hakikat hidupku hanya
"hamba", tujuan hidupku hanya untuk menghamba. seorang hamba yang
seharusnya patuh pada Sang Maha Majikan, Sang Mahanya Maha...jika begitu, tak
perlulah keraguan itu lagi, tak perlulah aku mengingkari setiap apa yang
menjadi kewajibanku jika tak ingin Majikanku marah padaku,....aku ingin tak
hanya menjadi hamba yang sekedar menjalankan titah yang diperintah, tapi juga
ingin merasakan "Mahabbah Ilallah"....

Komentar
Posting Komentar